Enda Kombet: Ingin Ada Generasi Penerus Memainkan Kecapi

Enda Kombet: Ingin Ada Generasi Penerus Memainkan Kecapi
KELILING EROPA: Enda Kombet Koboy Subang bersama pemanin Debu saat tampil di Eropa. INDRAWAN/PASUNDAN EKSPRES
0 Komentar

Dari Sufi Nusantara hingga ke Mancanegara

Sufi Nusantara adalah salah satu project yang sedang dikerjakan oleh seniman musik muda asal Subang, Enda Kombet Koboy Subang. Dengan rekan musisinya Mustafa “Debu”, Enda bercerita alasan mengapa dirinya tertarik untuk mengerjakan projek Sufi Nusantara tersebut.

LAPORAN: INDRAWAN, Subang

Menurut Enda, sejarah Islam di Indonesia khususnya di Jawa tidak lepas dari tokoh Wali Songo dengan media seni sebagai syiarnya. Di Jawa Barat terdapat pupuh sebagai salah satu warisan seni dari Wali Songo. Dikenal dengan 17 macam pupuh yang beredar di Jawa Barat, salah satunya asmarandana.

“Dalam kesempatan ini saya dipercaya untuk mengerjakan pupuh asmarandana oleh Mustafa. Saya mencoba menggubah asmarandana menjadi lebih nge-pop agar lebih akrab didengar oleh anak-anak muda untuk membangkitkan nilai-nilai yang terkandung dalam asmarandana tersebut,” Jelas Enda pada Pasundan Ekspres, Minggu (5/1).

Baca Juga:Akibat Cuaca Buruk Kapal Disandarkan, Nelayan Memilih Mencari KerangDinas Kesehatan Belum Terima Laporan Putus Kontrak BPJS

Enda juga menceritakan proses yang dia lalui bersama Mustafa, tentang bagimana pertamakali dia memainkan kecapi sampai konser di Turki. Menurut Enda, kerjasama dengan pentolan grup musik religi Debu itu membuka segala pengetahuan dan relasinya di bidang seni musik khususnya.

“Menarik, kami bisa eksplorasi musik, bertukar pengetahuan pergi konser ke Turki dan banyak lagi. Kecapi yang saya mainkan pada project Sufi Nusantara ini adalah kecapi yang saya stem menjadi diatonis dari yang pentatonis,” jelasnya lagi.

Sebagai seniman muda di Subang, Enda pergi ke berbagai negara seperti Belanda, Hongaria, Slovakia, Austria, Francis, Turki, dan beberapa negara lainnya untuk melakukan konser musik. Namun kendati demikian tidak membuat Enda lupa pada kampungnya sendiri. Baginya, selain memberi embel-embel Subang pada nama panggung belakangnya, Enda juga menyimpan harapan dan optimisme pada kampung halamannya.

“Saya tidak pernah ragu pada kemampuan seniman musik di Subang, yang mereka butuhkan adalah panggung. Selama ini saya yang tumbuh dan besar, juga hidup sehari-hari di Purwadadi tidak pernah mendapatkan panggung itu. Bukan persoalan materi, tapi eksistensi, misal kita lihat saja hari-hari besar di Subang, pernah tidak seniman lokal diberdayakan. Kalau jawabannya pernah, pasti seniman atau kelompok yang itu-itu aja,” tambahnya.

0 Komentar