Kodam III/Siliwangi Simulasi Siaga Penanggulangan Bencana

Kodam III/Siliwangi Simulasi Siaga Penanggulangan Bencana
TANGGAP DARURAT: Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Tri Soewandono melihat anggota menangani pasien dalam simulasi penanggulangan bencana. EKO SETIONO/PASUNDAN EKSPRES
0 Komentar

Gerakan Pasukan Susun Organisasi Satuan Tugas

Kodam III/Siliwangi mengadakan simulasi siaga penanggulangan bencana dalam mengantisipasi terjadinya bencana di wilayah Jawa Barat di Lapangan Tembak 300 Pusdikkav Kodiklat TNI AD, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (30/7).

EKO SETIONO, Bandung Barat

Dalam skenario, saat anggota pramuka dan masyarakat tengah melaksanakan kegiatan rutin, tiba-tiba terjadi gempa sehingga masyarakat panik melarikan diri. Bahkan ada sejumlah korban yang terjatuh hingga terluka dan mengalami patah tulang.

Pada tanggap darurat, Satgas penanggulangan bencana dan Tim kesehatan Kodam III/Siliwangi segera turun ke lokasi untuk mengevakuasi masyarakat serta menangani para korban.

Baca Juga:Camat Dorong Desa Maksimalkan Siskeudes, Bantu Jalankan Pemerintahan dan Kontrol KeuanganMuspika Kalijati Berangkatkan 30 Calon Jemaah Haji

Sedangkan korban yang mengalami patah tulang dan memerlukan penanganan khusus langsung dibawa ke mobil bedah lapangan, selanjutnya dievakuasi ke rumah sakit terdekat.
Usai memimpin simulasi, Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Tri Soewandono menerangkan, wilayah Jawa Barat sangat rawan ancaman bencana seperti longsor, gunung meletus, banjir bandang dan tsunami di wilayah pantai selatan.

“Menyikapi hal tersebut, sehingga kami harus segera menyiapkan satuan-satuan dalam susunan tugas untuk membantu penanganan dalam menghadapi bencana,” katanya.

Guna menangani pascabencana, pihaknya telah membentuk satuan-satuan tugas di antaranya tim kesehatan, satuan PP, Hubdam dan Paldam. Setiap satuan akan bekerja sesuai tugas dan fungsinya masing-masing. “Kami telah menyusun organisasi satuan-satuan tugas, dan apabila terjadi, kita siap gerakan pasukannya,” jelasnya.

Menurut Tri, penanggulangan bencana merupakan operasi yang kompleks. Saat bencana terjadi, lanjut dia, infrastruktur umumnya rusak, listrik padam, bahan bakar sulit dicari, bantuan yang bisa diandalkan hanya berasal dari masyarakat di luar kawasan bencana.

“Makanya kita latihan pendahuluan dalam rangka mengatasi terjadinya bencana alam. Prinsipnya, kalau terjadi bencana alam, yang diselamatkan yang sakit dulu,” ujarnya.(*/vry)

0 Komentar