FEKRAF Diharapkan Bersinergi dengan Pengusaha Wisata

FEKRAF Diharapkan Bersinergi dengan Pengusaha Wisata
WISATA: Wisatawan mancanegara tengah menikmati kopi Luwak Sawarga dan mendapat edukasi mengenai pembuatan kopi Luwak di salah satu tempat usaha Ekonomi Kreatif Kopi Luwak di Cikole. EKO SETIYONO/PASUNDAN EKSPRES
0 Komentar

BANDUNG BARAT-Bupati Bandung Barat Aa Umbara Sutisna sempat mengaku kecewa atas ketidakhadiran para pengusaha sektor pariwisata dalam pelantikan pengurus Forum Ekonomi Kreatif (FEKRAF) Kabupaten Bandung Barat (KBB). Menyikapi hal itu, Wakil Bupati Bandung Barat Hengki Kurniawan angkat bicara.
Berdasarkan informasi yang diterima Hengki, ketidakhadiran para pengusaha memenuhi undangan Pemkab Bandung Barat bukan tanpa alasan. Mereka dikabarkan ogah hadir karena undangan yang mereka terima sebelum-sebelumnya hanya bersifat seremonial saja.

“Kita akan mengundang PHRI (Persatuan Hotel Republik Indonesia) secara khusus untuk mengetahui masalah sebenarnya. Jika hanya alasan itu, kita akan yakinkan mereka bahwa undangan kita nanti akan membahas materi yang subtansial. Pemerintahan AKUR siap memberikan support bagi pelaku wisata di KBB, kita akan lakukan perubahan dan gebrakan-gebrakan baru,” papar Hengki, Rabu (13/12).

Sementara itu Wakil Ketua PHRI KBB, Eko Suprianto mengatakan, banyaknya anggota PHRI KBB yang enggan hadir dalam pelantikan dan pengukuhan pengurus FEKRAF KBB didasari beberapa hal.

Baca Juga:Pemkab Tutup Mata Terhadap UMKMTingkatkan Kemampuan Operator Kecamatan, Pemkab Fasilitasi Workshop SisKeuDes Versi 2.0

“Undangan yang kami terima mepet, kemudian acara selalu ngaret. Selain itu juga kami menilai pembentukan forum itu hanya sebatas seremonial kepentingan pejabat, bukan saling menguntungkan dengan pengusaha wisata,” ungkap Eko.
Owner Terminal Wisata Grafika Cikole ini menilai, bukan kali pertama Disbudpar membentuk forum serupa. Namun, pembinaan berjalannya forum untuk bersinergi dengan pengusaha itu tidak ada.

“Dinas terkait kan bapaknya. Ya mesti membina apa yang telah dibentuk. Jangan hanya sebatas seremonial kemudian tindak lanjut tidak ada,” kata dia.

Dirinya berharap, FEKRAF menjadi forum yang bisa bersinergi dengan pengusaha wisata di KBB dengan terus dilakukan pembinaan berkesinambungan dari Disbudpar.
“Saya berharap forum ini tidak seperti bentukan sebelumnya. Jangan lah sinergitas dengan pengusaha sebatas slogan, bagaimana pariwisata KBB mau maju,” tandasnya.

Sujud Pribadi sebagai pelaku ekonomi kreatif yang mengembangkan usaha kopi luwak bertahun-tahun merasa tidak tau dengan dibentuknya FEKRAF KBB.

“Saya tidak tau. Undangan pun tidak ada. Sosialisasi untuk pembentukan Fekraf pun tidak ada,” kata Sujud.

Padahal menurutnya, usaha yang telah dirintisnya itu sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kreatif dan menggangkat nama Bandung Barat di kancah Internasional. Selain itu juga menjadi sarana edukasi kopi luwak dari berbagai negara. Wisatawan asing yang datang ke tempatnya selain menikmati kopi luwak Sawarga, juga mendapat berbagai pengetahuan dalam mengolah kopi.

0 Komentar