Investasi di Jabar Tak Goyah

SEGERA BERDIRI: Istri Gubernur Jabar, Atalia Praratya (kedua kiri) saat menghadiri ground breaking pabrik IKEA di Kota Baru Padalarang beberapa waktu lalu.(ILUSTRASI)

BANDUNG – Nilai investasi yang masuk di Jawa Barat selama semester pertama di tahun ini tak goyah kendati diterpa wabah virus korona. Ini menujukan jika Jabar memiliki potensi besar dan mampu mendapat kepercayaan tinggi dari para investor baik dalam negeri maupun luar negeri.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP) Jabar, Noneng Komara Nengsih, menyebutkan, realiasasi investasi Jabar periode triwulan II (Januari- Juni) 2020 berada di peringkat pertama Nasional dengan nilai investasi Rp 57,9 triliun.

Untuk diketahui peringkat Nasional, Jabar berada di posisi pertama dengan nilai Rp 57,9 triliun (14,4%), Jawa Timur Rp 51,0 triliun (12,7%), DKI Jakarta Rp 52,0 triliun (12,5%), Jawa Tengah Rp 27,8 triliun (6,9%), Riau Rp. 22,8 triliun (5,6%) dan lainnya Rp 192,9 triliun (47,9%).

“Ini berita baik, Jabar peringkat ke satu Nasional investasinya. Ini merupakan kabar gembira. Semoga peringkat ini bisa menambah optimisme untuk melakukan investasi di Jabar,” kata Noneng saat rapat Virtual Business Meeting, di Bandung, Kamis (23/7).

Noneng mengungkapkan, 5 sektor teratas berdasarkan investasi domestik dan asing Q1-2020. Kontruksi, kawasan industri dan perkantoran, transportasi, gudang dan komunikasi, listrik, gas, dan air, logam, mesin dan elektronik.

“Untuk presentasenya, kontruksi 36,54%, kawasan industri dan perkantoran 17,06%, transportasi 10,92%, listrik 7,62% dan mesin 6,75%,” katanya.

Meskipun begitu, dirinya mengaku Jabar pada triwulan 1 tahun 2020 ini mengalami pelambatan pertumbuhan yang biasanya di atas 5 persen secara one on way.

“Mengamati pelambatan hanya 2,73%. Ini bahkan lebih lambat dibanding pertumbuhan secara nasional. Bahkan kalau kita lihat pertumbuhan Jabar terkontraksi minus 0,95%,” ujarnya.

“Ini karena struktur perekonomian Jabar sangat ditopang oleh industri dan perdagangan yang hampir berkontribusi 60% terhadap perekonomi Jabar,” imbuhnya.

Sedangkan industri Jabar, lanjut dia, sangat imporment. Namun dimasa pandemi itu menyebabkan krisis Global-Internasinal sehingga sangat berpengaruh terhadap Jabar.

“Kalau kita lihat dari sisi demand. Jabar digerakan utamanya masih oleh kosumsi rumah tangga yang mencapai 60%. Kemudian oleh investasi dan ekspor tentunya,” lanjutnya.

Menurutnya, dipertumbuhan 2,7% ini, kosumsi rumah tangga masih punya andil 1,8%. Sangat signifikan karena memang kosumsi rumah tangga Jabar berkontribusi 60% dari perekonomian Jabar.

“Tentunya rumah tangga ini berdasarkan dari balas jasa yang diterima oleh rumah tangga. Dari upah gajih, dari surplus usaha, dari seluruh sektor lapangan usaha,” menurutnya.

Pada saat ini, lapangan usaha di Jabar melambat, pertumbuhannya pun melambat. Sehingga berpengaruh terhadap jual-beli masyarakat sehingga perlambatan-perlambatan ekonomi ini tersumbat.

“Pada masa PSBB, kita sangat berkonsentrasi terhadap kesehatan, lockdown, membatasi pergerakan. Mudah-mudahan di tahun 2020 triwulan III akan ada perbaikan yang sangat signifikan,” pungkasnya. (rls)