Kiprah Kusnali yang Mendapat Julukan Kepala Lapas Kelas IIA Subang Pemadam Kebakaran

Kepala Lapas Kelas IIA Subang
PENGABDIAN: Kalapas Kelas IIA Subang Kusnali memperlakukan narapidana seperti keluarga untuk pembinaan. YUGO EROSPRI/PASUNDAN EKSPRES

Anggap Narapidana Keluarga untuk Pembinaan

Mengabdi dalam melayani para narapidana bukan hal yang mudah. Bahkan, sering kali terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kusnali A.Md Kepala Lapas Kelas IIA Subang merupakan sosok yang gigih dalam melakukan hal tersebut.

Kusnali yang menjabat Kepala Lapas Kelas IIA Subang, mengaku sudah mengabdi di lembaga pemasyarakatan sejak tahun lalu, kini sudah menjadi Kepala Lapas Subang. Sebelumnya berpindah-pindah dari berbagai Lapas di Indonesia. Pria kelahiran 1970 tersebut kini terus berkiprah dan terus ingin berkarir di dunia Lapas.

Ayah dari dua anak tersebut mempunyai motto menanamkan kebaikan terhadap semua orang.

Baca Juga: Sumur Mengering, Kalapas Atur Distribusi Air

“Saya sebenarnya kelahiran Subang. Rumah saya di Kecamatan Kalijati dan saat ini saya menjabat sebagai Kepala Lapas Subang,” ujarnya.

Awalnya Kusnali tidak menyangka bisa mengabdi di Lapas tempat bernaungnya narapidana. Namun dukungan dari istri dan keluarga, Kusnali mantap untuk menjalankan tugas.

Dimanapun penempatan tugas, anak dan istrinya selalu mendampinginya. Alhamdulillah, istri dan anak selalu mendukung. Terbukti mereka selalu ikut kemanapun saya berpindah tugas,” ungkapnya.

Pernah bertugas di Maluku Utara

Kusnali mengaku pernah bertugas di Lapas Sanana Kepulauan Sula Maluku Utara. Lapas tersebut pernah mengalami kerusuhan dan dibakar pada bulan Februari 2010 lalu. “Saya pernah disebut Kalapas Pemadam Kebakaran.

Saya pernah bertugas di dua lapas yang mengalami kerusuhan hingga kebakaran di Lapas Sanana Kepulauan Sula dan Lapas Palopo Sulawesi,” paparnya.

Kusnali mengatakan, pasca terjadi kerusuhan dan kebakaran di Lapas Sanana Kepulauan Sula, jumlah narapidana dari 120 orang, yang didalam sel hanya ada 100 orang napi.

Sedangkan 20 orang napi tidak tahu berada dimana diduga keluar dari sel. Diduga ada oknum yang mengeluarkannya. “Saya langsung bergerak cepat untuk menemukan 20 orang napi yang tidak diketahui berada dimana,” katanya.

BACA JUGA:  391 Napi Dapat Remisi Hari Kemerdekaan

Dengan usaha kerasnya, akhrinya 20 orang napi tersebut bisa ditemukan dan dimasukan kembali ke dalam lapas. Tidak hanya berhenti disitu saja, Kusnali langsung memindahkan 20 napi tersebut ke Lapas Ternate.

Pasalnya, 20 orang napi tersebut sering memprovokasi narapidana lainnya untuk melakukan kerusuhan. “Kita pindahkan juga, ke Lapas Ternate,” katanya.

Kusnali yang hobi olahraga sepak bola, menceritakan situasi Lapas Sanana Kepulauan Sula Maluku Utara yang bisa dikatakan mencekam. Saat itu, para narapidana sulit diatur, bahkan para petugas tidak merasa nyaman dan kerap mendapatkan ancaman.

Narapidana sering bertindak anarkis, seperti menjebol pintu, hingga rumah dinas petugas yang dilempari. “Saya juga mengalami saat di rumah dinas. Ketika ada istri saya, di sana dilempari narapidana,” ungkapnya.

Sejak 20 orang narapidana tersebut dipindahkan ke Lapas Ternate, maka kondisi Lapas Sanana Kepulauan Sula – Maluku Utara menjadi aman terkendali. P

etugas pun nyaman dalam bertugas. Ketika sudah aman, ternyata saya pindah tugas ke Lapas Ternate dan bertemu kembali dengan 20 orang narapidana yang saya pindahkan.

“Mereka bertemu saya lagi ketika menjabat di Lapas Ternate. Seperti biasa saja, kita menjadi dekat. Karena prinsip saya, para narapidana harus dijadikan sebagai keluarga,” katanya.

Kusnali menerapkan pembinaan terhadap para narapidana dengan halus dan kekeluargaan. Kusnali memiliki keinginan untuk menjalankan ibadah haji, karena keinginan tersebut sudah sangat menggebu-gebu. “Keinginan saya, ingin menjalankan ibadah haji,” ujarnya.(ygo/vry)