Corona Syndrome dan Strategi Bertahan Hidup Masyarakat Bawah di Tengah Pandemi

Corona Syndrome dan Strategi Bertahan Hidup Masyarakat Bawah di Tengah Pandemi
0 Komentar

yOleh
1.Drs.Priyono,MSi(Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta)
2.Siti Nur Aisah( Mahasiswi smt 2 F.Geografi UMS, aktivis bidang penerbitan )

Di saat jam istirahat sore, ada tamu mengetuk pintu. Dia adalah tetanggaku, seorang pengayuh becak yang menjadi pekerjaan sehari hari, sebut saja Pak Arsok. Dia termasuk berjasa dalam keluarga intiku, karena menjadi tenaga antar jemput anak ketika sekolah di kota .

Dalam bahasa yang sangat sederhana, dia mau nyrempet(pinjam) uang untuk pengobatan ibunya yang kini sedang sakit di rumah dengan alasan kini pekerjaan pengayuh becak sangat sepi. Di hari biasa, dia bisa peroleh rp 50.000 per hari tapi saat Corona, pendapatannya merosot tajam menjadi rp 20.000 per hari, hanya cukup untuk makan dan merokok saya sendiri Pak, katanya. Inilah salah satu strategi bertahan hidup yaitu dengan berhutang.

Baca Juga:Bhayangkari Cabang Purwakarta Serahkan APDPemkab Purwakarta Berlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar

Pak Arsok yang lain saya kira masih cukup banyak yang mengalami kesulitan hidup di tengah pandemi karena mobilitas orang semakin terbatas sehingga pusat perbelanjaan baik yang tradisional maupun modern mengalami susut pembeli, yang berakibat secara kumulatif pendapatan berkurang cukup mengagetkan berkisar 50-60 persen bahkan lebih.

Wabah virus covid-19 bukan saja membunuh mnusia secara fisik, akan tetapi juga secara mental. Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Karena pandemi covid-19 sudah melumpuhkan banyak aspek dalam kehidupan, sebut saja dalam bidang ekonomi, sosial dan yang paling bahaya adalah mental.

Pemberitaan yang beredar di media masa sudah cukup membuat ketakutan dan kekhawatiran tersendiri bagi sebagian besar masyarakat Indonesia bahkan dunia. Terlebih, ditambah beberapa postingan di media sosial yang dapat dengan mudahnya kita jumpai yaitu pemberitaan mengenai betapa ganasnya wabah virus tersebut.

Padahal, belum sepenuhnya benar isu-isu yang beredar di tengah masyarakat. Bukankah hal tersebut hanya akan memperkeruh keadaan?
Sudah selayaknya kita melek akan kebenaran informasi agar terhindar dari yang namanya berita hoax. Memang sudah bukan rahasia lagi jika covid-19 menjadi salah satu virus terganas yang ada sepanjang peradaban umat manusia. Namun, pemberitaan negatif yang terlalu dibesar-besarkan dapat menyebabkan seseorang terkena “Corona Syndrome”.

0 Komentar