Istiqamah Dalam Melakukan Amar Makruf Nahi Mungkar

Oleh: Sahiyah

Ibu Rumah Tangga

Amar makruf nahi mungkar adalah kewajiban penting dalam Islam dan mengandung banyak keutamaan.

Setiap perintah Allah pasti membawa kebaikan dan kemanfaatan, demikian juga dengan laranganNya pasti membawa keburukan dan kemudaratan.

Kemungkaran atau kezaliman bisa dilakukan oleh siapapun baik oleh individu, kelompok, atau oleh penguasa. Kemungkaran juga bisa terjadi dimana saja, seperti di jalan, di perkantoran, bahkan di tempat ibadahpun bisa terjadi.

Di era milenial, tempat kemungkaranpun bisa menjadi lebih luas lagi, bisa di hotel, penginapan, tempat rekreasi, salon, sekolah, kampus, dan lain-lain.

Adapun kemungkaran yang dilakukan penguasa, kadarnya jauh lebih besar dan lebih luas lagi, karena meliputi seluruh aspek. Lebih-lebih penguasa menjadikan sekularisme sebagai dasar kehidupan dalam bernegara, mereka akan menolak syariah Islam bahkan memusuhinya bila tidak sejalan dengan mereka. Dibidang politikpun mereka menjalankan dengan sistem demokrasi, begitu juga di bidang ekonomi yang berbasis ribawi mereka menjalankan dengan sistem kapitalisme. Mereka juga tidak segan-segan mengkriminalisasi ulama dan ormas Islam dengan stigma radikal.

Amar makruf nahi mugkar adalah ciri khas kaum Mukmin sekaligus menjadi ciri umat terbaik, sebagaimana firman Allah dalam surat at-Taubah ayat 71.

“Orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka melakukan amar makruf nahi munkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat serta mentaati Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Lain halnya dengan kaum Bani Israil terlaknat yang tidak melarang kemungkaran di antara mereka. Berbeda pula dengan kaum munafik justru melakukan amar munkar nahi makruf, yaitu menyeru kepada kemaksiyatan dan mencegah kepada kebaikan.

BACA JUGA:  New Normal Life Antara Tren Global dan Kesiapan Internal

Adapun kemuliaan umat Muhammad saw. antara lain mereka melakukan amar makruf nahi munkar.Allah berfirman yang aritnya: “Kalian adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia; melakukan amar makruf nahi munkar dan mengimani Allah.” (TQS. Ali Imran [3]: 110).

Bahaya besar jika kaum Muslimin meninggalkan amar makruf nahi munkar, azab Allah akan turun kepada semua pihak, baik pelaku kemungkaran ataupun bukan. Selain itu meninggalkan amar makruf nahi munkar juga bisa menjadi penyebab tidak dikabulkanya doa.

Rasulullah saw. bersabada:
“Demi zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian benar-benar melakukan amar makruf nahi munkar atau (jika tidak) niscaya Allah akan mengirimkan hukuman/siksaan kepada kalian (karena keengganan kalian tersebut). Lalu kalian berdoa kepada Allah, namun Dia tidak mengabulkan kalian.” (HR. at-Tirmidzi).

Dalam melakukan amar makruf nahi munkar sikap sabar dan istiqamah harus dikedepankan, karena banyak tantangan dan hambatan yang akan menimpa mereka.
Disamping itu adanya niat ikhlas semata-mata karena Allah juga merupakan kunci penting dalam membangun sikap sabar dan istiqamah.

“Wajib bagi pelaku amar makruf nahi munkar untuk selalu ikhlas semata-mata karena Allah, dengan maksud taat kepada Allah.” Demikian pesan dari Imam Ibnu Taimiyah.
Wallaahu a’lam bi ashawab.