Jelang HPN 2026 PWI Pusat Gelar Anugerah Kebudayaan

Jelang HPN 2026 PWI Pusat Gelar Anugerah Kebudayaan
Jelang HPN 2026 PWI Pusat Gelar Anugerah Kebudayaan
0 Komentar

PASUNDANEKSPRES.CO – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat menggelar Silaturahmi dan Presentasi Anugerah Kebudayaan bagi wartawan bersama komunitas, serta para bupati dan wali kota di Hall Dewan Pers, Jakarta, Kamis (8/1/26).

Kegiatan ini menjadi tahapan penting menjelang penyerahan Trofi Abyakta pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Banten, 9 Februari 2026.

Acara dibuka dengan pertunjukan seni budaya Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang dipimpin langsung oleh Bupati Manggarai, Heribertus Geradus Laju Nabit. Suasana semakin khidmat saat seluruh peserta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Baca Juga:Program Seragam Gratis di Subang Dapat Sambutan Positif Jelang Tahun Ajaran BaruAda 1.122 Laporan Masyarakat di Purwakarta Masuk Ogan Lopian Sepanjang 2025, Penyelesaian Capai 99,4 Persen

Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat, Yusuf Susilo Hartono, menyampaikan bahwa pers memiliki peran strategis tidak hanya dalam mengawal isu politik dan ekonomi, tetapi juga dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan nasional.

“Pembangunan kebudayaan harus dimulai dari daerah. Karena itu, silaturahmi dan presentasi ini menjadi penting, sebab proposal tertulis saja tidak cukup. Kemajuan budaya daerah akan sangat menentukan arah kebudayaan nasional,” ujarnya.

Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, melalui sambutan yang disampaikan Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat, Atal S. Depari, menegaskan bahwa Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar seremoni.

“Anugerah ini merupakan pengakuan moral dan historis atas peran kebudayaan sebagai jiwa bangsa, sekaligus bentuk apresiasi kepada para insan budaya yang konsisten menjaga identitas Indonesia di tengah arus perubahan zaman,” kata Atal.

Menurutnya, kekuatan utama Indonesia tidak hanya terletak pada aspek ekonomi, geopolitik, atau demografi, tetapi justru pada kekayaan budayanya yang telah diakui dunia, termasuk oleh UNESCO.

“Dengan ribuan bahasa dan ragam tradisi, pembangunan yang berlandaskan kebudayaan adalah sebuah keharusan. Tanpa kebudayaan, pembangunan akan kehilangan arah, makna, dan identitas,” tambahnya.

Dalam konteks tersebut, pers dinilai memiliki peran penting sebagai penjaga ingatan kolektif, ruang dialog kebudayaan, serta penghubung antara tradisi dan modernitas. Pers yang sehat adalah pers yang memberi ruang bagi kebudayaan untuk tumbuh, dikenal, dan dihargai publik.

Baca Juga:Menteri Nusron Ingin Tokoh Keagamaan Terlibat Aktif dalam Penyelesaian Sertipikasi Tanah WakafTransformasi Digital, Kunci Efisiensi Pelayanan Publik di Kabupaten Subang

Wakil Ketua Dewan Pers, Totok Suryanto, menilai wartawan memiliki kedekatan yang kuat dengan kebudayaan melalui tugas pencatatan sejarah, tradisi, dan dinamika sosial masyarakat.

0 Komentar