“Wartawan mencatat sejarah dan budaya. Dari catatan itulah nilai-nilai budaya dapat terus hidup. Ke depan, para pemimpin daerah diharapkan mampu mencatatkan dirinya sebagai pelindung dan penyelamat budaya yang kini mulai tergerus,” ujarnya.
Totok menambahkan, keberhasilan seorang wali kota, bupati, atau gubernur salah satunya dapat diukur dari komitmennya dalam melindungi dan melestarikan kebudayaan daerah selama masa kepemimpinannya.
“Jika suatu daerah didominasi budaya asing, mulai dari makanan hingga pola interaksi sosial, maka budaya lokal bisa hilang dan hanya tersisa kenangan. Di sinilah pers harus hadir sebagai penjaga, pejuang, sekaligus tonggak kebudayaan bangsa,” tegasnya.
Baca Juga:Program Seragam Gratis di Subang Dapat Sambutan Positif Jelang Tahun Ajaran BaruAda 1.122 Laporan Masyarakat di Purwakarta Masuk Ogan Lopian Sepanjang 2025, Penyelesaian Capai 99,4 Persen
Usai kegiatan silaturahmi, sebanyak 10 kepala daerah dijadwalkan mengikuti presentasi Anugerah Seni dan Kebudayaan di PWI Pusat pada Jumat (9/1/2026).
Peserta terdiri atas tiga wali kota dan tujuh bupati, yaitu:
– Wali Kota Malang, Jawa Timur, Wahyu Hidayat– Wali Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Andi Harun– Wali Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Mohan Roliskana– Bupati Lampung Utara, Lampung, Hamartoni Ahadis– Bupati Temanggung, Jawa Tengah, Agus Setiawan– Bupati Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Heribertus Geradus Laju Nabit– Bupati Blora, Jawa Tengah, Arief Rohman– Bupati Labuhanbatu, Sumatera Utara, Maya Hasmita– Bupati Manokwari, Papua Barat, Hermus Indou– Bupati Padang Pariaman, Sumatera Barat, John Kenedy Azis (dan).
