PASUNDANEKSPRES.CO – Pengepul kulit domba dan kambing di Purwakarta menjerit. Omzet usahanya merosot tajam hingga 80 persen. Ribuan lembar kulit domba dan kambing pun menumpuk dan terancam rusak karena belum terjual.
Hal ini seperti yang disampaikan Islam Badjuber, pengepul kulit domba dan kambing, saat ditemui di gudangnya yang berlokasi di Jalan Purnawarman Barat, Kelurahan Sindangkasih, Kecamatan/Kabupaten Purwakarta, Rabu (14/1/2026).
Islam, begitu ia biasa dipanggil, telah bertahun-tahun memasok bahan baku industri kerajinan kulit ke Garut, Cirebon, hingga Kuningan.
Baca Juga:Kurangi Kepadatan dan Kerusakan Jalan, Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Purwakarta Bahas Pembatasan AngkutPetani di Subang Gropyokan Tikus Jaga Hasil Produksi Padi di Desa Rangdu
“Kalau lihat kondisi begini, pusing, Bang. Ini kulit hampir seribu lembar kebuang, rusak, rugi semua,” kata Islam kepada wartawan.
Biasanya, kata dia, kulit-kulit tersebut mudah terserap sentra kerajinan untuk diolah menjadi jaket, tas, sepatu, sabuk hingga dompet. Dalam kondisi normal, Islam mengaku mampu menjual ribuan hingga puluhan ribu lembar kulit setiap bulannya.
“Dulu mah alhamdulillah, bisa nyampe 5.000 sampai 10.000 lembar. Sekarang, dalam sebulan, 1.000 juga enggak kuat, paling 600 lembar,” ujar Islam mengungkapkan.
Menurutnya, penurunan ini terjadi karena lesunya permintaan industri kerajinan kulit. Penampung besar di Garut, Cirebon, dan Kuningan kini jarang membeli, bahkan nyaris berhenti menyerap pasokan.
“Barang ada, tapi yang beli enggak ada. Bingung mau lempar ke mana lagi,” ucapnya menambahkan.
Setiap hari, ia masih menerima 30 hingga 50 lembar kulit dari pemotongan hewan, namun, tanpa penjualan, kulit-kulit itu hanya menumpuk di gudang, perlahan rusak dan tak bernilai.
Padahal, ada nasib para pekerja gudang yang menggantungkan hidup dari usaha pengepulan ini. Islam mengaku khawatir jika kondisi terus berlanjut, usahanya terpaksa tutup.
Baca Juga:Pelayanan Pembuatan KTP di Kecamatan Pagaden Subang, Dekat Hemat dan CepatKonsisten dan Berkelanjutan, Green Action by Semua Senyum Indonesia Hijaukan Gunung Rahayu
“Karyawan juga mikirin. Mereka ngandelin kerja di sini buat makan keluarga,” katanya.
Islam berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat turun tangan, baik lewat bantuan pemasaran, pembinaan UMKM, maupun membuka akses pasar baru agar usaha pengepulan kulit kembali bergairah.
“Kalau dibiarkan begini terus, bukan cuma saya, tapi banyak orang yang kena dampaknya,” ujar Islam.
Tak hanya pengepul, kondisi serupa juga dirasakan para pengecer kecil. Endang, salah satu pengecer kulit domba, mengaku penghasilannya ikut anjlok. Ia kini kesulitan mendapatkan kulit dari tempat pemotongan hewan.
