PASUNDANEKSPRES.CO – Sebanyak 28 siswa SDN Wargasari, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur mengalami gejala keracunan diduga mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Dari 28 siswa, 11 siswa lainnya terpaksa harus dirujuk ke rumah sakit lantaran demam dan muntah yang tak berkesudahan.
Salah satu orang tua siswa bernama Indah (34) mengatakan, anaknya mulai mengeluhkan mual dan pusing pada Selasa (27/1) pagi.
Baca Juga:Menikmati Cuanki Berkah Makmur Tambun, Cuma Rp7 Ribu Kenyang!Masih Ingat Resbob? Tersangka Kasus Penghinaan Suku Sunda dan Viking ini Segera Jadi Terdakwa
Setibanya di rumah, anaknya yang duduk di bangku kelas 6 itu mengalami muntah-muntah.
“Katanya di sekolah muntah, kemudian diantar pulang. Setelah sampai rumah, muntahnya makin sering. Ternyata teman-temannya juga mengalami hal serupa hingga akhirnya diminta berkumpul di sekolah untuk dibawa ke puskesmas,” kata Indah.
Indah mengungkapkan, gejala itu muncul setelah anaknya mengonsumsi MBG.
Menurut Indah menu olahan makanan yang dikonsumsi siswa tercium berbau tak sedap.
“Menunya tahu, sayur, dan daging ayam bumbu. Kata anak saya, ayamnya berbau. Bahkan di menu sebelumnya ditemukan belatung,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Kadupandak Suryana mengatakan hingga pukul 15.00 WIB, tercatat ada 28 siswa yang mengeluhkan muntah, mual, pusing, dan demam.
“Pasien berdatangan sejak pukul 09.00 WIB dengan gejala serupa. Dari total 28 siswa yang dibawa ke puskesmas, 11 di antaranya dirujuk ke rumah sakit karena kondisinya tak kunjung menunjukkan perbaikan,” kata Suryana.
Ia menambahkan, pasien yang dirawat di puskesmas saat ini masih ditangani secara maksimal dan beberapa di antaranya sudah diperbolehkan pulang.
Baca Juga:Raffi Ahmad Nyumbang Rp 1 Miliar untuk Korban Longsor CisaruaKecurigaan Tak Mendasar, Penjual Es Kue Jadul Diduga Berbahan Spons, Penuduh Minta Maaf
Di sisi lain, Kapolsek Kadupandak AKP Deden Hermansyah menyatakan pihaknya masih menyelidiki peristiwa tersebut. Uji laboratorium dilakukan untuk memastikan penyebab pasti keracunan.
“Penyebabnya masih kami selidiki. Belum tentu akibat MBG, karena ada siswa yang makan tapi tidak bergejala, dan ada juga yang tidak makan tapi justru muntah dan diare. Kami sudah mengirimkan sampel muntahan ke laboratorium,” jelas Deden.
Kepala SPPG Gandasari Gungun Muparih membantah jika keracunan tersebut bersumber dari menu MBG. Ia menekankan bahwa siswa yang tidak mengonsumsi MBG pun mengalami gejala yang sama.
Terkait temuan belatung pada menu sebelumnya, Gungun berdalih hal itu bersumber dari buah, bukan daging.
