“Itu sangat pantas sih, soalnya kita di event ini melawan raja Asia yaitu Iran, kita bermain imbang, apalagi sampai adu penalti itu ya cukup bagus sih buat kita sendiri,” jelas dia.
Ke depan, Yogi menyimpan mimpi besar bersama Timnas Futsal Indonesia.
“Harapan pribadi saya semoga terus konsisten di Timnas ini, semoga bisa membawa Timnas Indonesia ke piala dunia,” katanya.
Di balik pencapaian tersebut, Yogi mengaku ada satu dorongan terbesar yang selalu menguatkannya sejak kecil.
Baca Juga:Polda Metro Tolak Permintaan Roy Suryo Cs Atas 709 Barang Bukti Ijazah JokowiWaketum PSI Bro Ron Pegang Bukti Awal Penyelewangan Bantuan Siswa NTT yang Bunuh Diri, Ada Perbedaan!
“Ya salah satunya keluarga Yogi, ingin mengangkat derajat keluarga Yogi, khususnya orang tua. Itu buat semangat tersendiri buat Yogi sih,” ujarnya.
Ia pun menutup perbincangan dengan pesan untuk para pendukung Timnas.
“Ya, terima kasih untuk masyarakat Indonesia yang sudah mendukung Timnas kami. Terima kasih banyak,” ucap Yogi.
Doa Ibu
Sehari sebelum laga final, Tribun sempat berbincang dengan ibunda Yogi, Tamirah (56), di rumah sederhananya di Kampung Karang Anyar.
Tak pernah terlintas di benaknya, anak yang tumbuh dalam keterbatasan ekonomi kini berdiri di ambang sejarah Asia.
“Ya bahagia ya, terharu, segala macam. Lihat anak bisa sukses kayak gitu,” ujar Tamirah dengan suara bergetar.
Ia mengaku hanya sempat berkomunikasi singkat dengan Yogi jelang pertandingan besar.
“Tadi jam sembilan kurang sepuluh. Yogi itu kalau mau tanding mendadak aja kasih kabar. ‘Doain ya, Mah,’ katanya,” ucapnya.
Pesan Tamirah kepada sang anak pun sederhana.
Baca Juga:Hector Souto: Sejarah Timnas Futsal Indonesia di Piala Asia 2026 Hasil Kerja Sama Tim, Bukan Saya!Indonesia Hajar Jepang 5-3, Bahlil Lahadalia Optimistis Skuad Garuda Rebut Takhta Asia dari Iran
“Saya bilang semangat, fokus mainnya. Jangan ke mana-mana pikirannya, biar menang,” katanya.
Tamirah mengenang masa kecil Yogi yang sejak dini hanya punya satu fokus: bola.
Meski kerap terbentur biaya, semangat Yogi tak pernah surut.
“Pernah Yogi bilang nggak bisa ikut turnamen karena nggak ada buat patungannya,” kenangnya.
Kondisi keluarga semakin berat setelah ayah Yogi wafat pada 2016 akibat sakit jantung.
Sejak itu, Tamirah menjadi tulang punggung keluarga dengan berjualan makanan sederhana.
“Bapaknya sakit jantung, jadi nggak kerja. Saya jualan. Jual lontong, nasi lengko, nasi kuning,” ucapnya.
