Menengok Tradisi Munggahan Jelang Ramadan Warga Purwakarta, Warisan Sunda yang Terus Dirawat

Menengok Tradisi Munggahan Jelang Ramadan Warga Purwakarta, Warisan Sunda yang Terus Dirawat.
TRADISI MUNGGAHAN - Warga Dusun 1 Desa Pasawahan Kidul, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Purwakarta, menggelar tradisi munggahan dengan makan bersama di jalan desa menjelang bulan suci Ramadan, Minggu (15/1/2026). Tradisi ini menjadi sarana mempererat silaturahmi dan saling memaafkan antarwarga.
0 Komentar

PASUNDANEKSPRES.CO – Suasana kebersamaan terasa kental di Dusun 1, Desa Pasawahan Kidul, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, menjelang datangnya bulan suci Ramadan. Jalan desa yang biasanya lengang mendadak dipenuhi warga.

Mereka duduk bersila beralaskan tikar, dengan daun pisang terbentang rapi di atasnya, menjadi wadah makan bersama dalam tradisi tahunan yang dikenal sebagai munggahan.

Munggahan itu berlangsung pada akhir pekan, Minggu (15/2/2026) kemarin. Dilihat Tribunjabar.id langsung di lokasi, sejak siang hari warga mulai berdatangan membawa hidangan dari rumah masing-masing.

Baca Juga:Banjir Indramayu Rendam Perumahan Setinggi Pinggang, Bupati Lucky Hakim Bongkar PenyebabnyaOpening Ceremony Info Franchise & Business Concept Expo 2026: Resmi Di buka!

Nasi liwet menjadi menu utama, diletakkan di tengah-tengah kebersamaan. Lauk pauk tersaji beragam, mulai dari ayam, ikan peda, tahu dan tempe goreng, jengkol, hingga aneka sambal.

Tak ketinggalan lalapan segar, kerupuk, gorengan seperti bala-bala, serta minuman sederhana berupa air putih dan teh hangat.

Setiap kepala keluarga membawa menu berbeda, ada yang disemur, ada pula yang dibalado, menambah semarak rasa dalam satu hamparan kebersamaan.

Kepala Dusun 1 Pasawahan Kidul, Toto Sucipto, mengatakan tradisi munggahan ini menjadi momentum penting bagi warga untuk saling berbagi dan mempererat tali silaturahmi.

“Alhamdulillah, warga Dusun 1 antusias berkumpul menggelar makan bersama. Kami menginstruksikan agar lauk pauk seadanya saja, yang penting rasa kebersamaan dan saling berbagi itu ada,” ujar Toto saat ditemui Tribunjabar.id di lokasi, Minggu (15/2/2026).

Menurut Toto, kegiatan ini diikuti sekitar 30 kepala keluarga, dengan jumlah warga yang hadir mencapai lebih dari 100 orang.

“Dengan makan bersama ini, keluarga bisa bersatu, komunikasi antarwarga juga semakin baik. Harapannya, silaturahmi ke depan semakin erat,” ujarnya.

Baca Juga:Bulog Pastikan Jemaah Haji 2026 Konsumsi Beras Premium Asal IndonesiaPrabowo Pastikan Defisit APBN di Bawah 3 Persen, Siap Tekan Lebih Rendah

Hal senada disampaikan Tuti Susanti (62), salah satu warga yang turut menyiapkan hidangan. Ia menyebut menu yang dimasak berupa nasi liwet dengan lauk pauk sesuai kemampuan masing-masing keluarga.

“Menunya ngeliwet. Lauknya ada ayam, peda, jengkol, tahu, tempe, sambal, lalap. Tergantung keluarga masing-masing,” katanya.

Bagi Tuti, tradisi munggahan memiliki makna yang dalam. “Bagus untuk silaturahmi kekeluargaan. Terlihat kekompakan warga Pasawahan. Ini memang tiap tahun diadakan menjelang Ramadan,” ujarnya.

Dalam munggahan kali ini, keluarga Tuti datang lengkap dengan 10 anggota keluarga.

0 Komentar