Gelombang PHK Picu Trauma Turun Kelas dan Krisis Identitas, Psikolog Beberkan Dampak Micro-Burnout

Gelombang PHK Picu Trauma Turun Kelas dan Krisis Identitas, Psikolog Beberkan Dampak Micro-Burnout.
Gelombang PHK di Indonesia tak hanya berdampak pada kondisi finansial pekerja, tetapi juga memunculkan tekanan psikologis yang jarang terungkap ke publik.
0 Komentar

PASUNDANEKSPRES.CO – Gelombang PHK di Indonesia tak hanya berdampak pada kondisi finansial pekerja, tetapi juga memunculkan tekanan psikologis yang jarang terungkap ke publik.

Banyak pekerja mengalami krisis identitas profesional, burnout berkepanjangan, hingga kecemasan terhadap masa depan.

Para psikolog menyebut fenomena ini sebagai trauma penurunan kelas sosial, sebuah kondisi ketika seseorang merasa status, peran, dan jati dirinya runtuh setelah kehilangan pekerjaan tetap.

Baca Juga:Fabio Quartararo Frustasi, Yamaha Belum Siap dengan Mesin V4Suster Ika yang Selamatkan 13 Korban TPPO di Sikka Bertemu Dedi Mulyadi, Titip Pesan Buat Pemda

Bukan sekadar pergantian profesi, kehilangan pekerjaan sering kali berarti hilangnya komunitas, stabilitas, serta pengakuan sosial yang selama ini melekat pada jabatan.

Psikolog: PHK Bisa Picu “Identity Dissolution”

Psikolog klinis Ratna Megawati, M.Psi., yang telah dua dekade berpraktik di Jakarta, menyebut banyak mantan pekerja kantoran mengalami apa yang ia istilahkan sebagai identity dissolution atau pembubaran identitas.

Menurutnya, pekerja yang bertahun-tahun membangun karier di lingkungan korporat mendadak kehilangan pijakan ketika beralih ke pekerjaan berbasis aplikasi seperti ojek online atau freelancer.

“Banyak klien datang dengan kebingungan mendasar, mereka tidak lagi tahu siapa diri mereka setelah meninggalkan pekerjaan tetap. Saat ditanya ‘apa pekerjaanmu?’, mereka kesulitan menjawab,” ujarnya.

Gelar seperti “manajer” atau “direktur” selama ini memberi identitas sosial yang jelas. Ketika itu hilang, sebagian orang mengalami krisis eksistensial yang serius.

Sedangkan Psikolog organisasi Dr. Ario Baskoro menjelaskan bahwa burnout di pekerjaan berbasis aplikasi memiliki karakter berbeda dibandingkan burnout kantoran.

Jika di kantor burnout berkembang perlahan akibat tekanan institusional, maka di sektor gig economy muncul apa yang disebutnya sebagai micro-burnout.

Baca Juga:PBSI Umumkan 3 Wajah Baru di Pelatnas 2026, Ini Daftar Lengkap 74 Atlet CipayungBulog Perkuat Sinergi Jaga Harga Pangan Jelang Ramadan dan Idul Fitri 1447 H

Serta kelelahan mental akibat tekanan target harian, algoritma aplikasi, serta ketidakpastian pendapatan.

Meski begitu, para psikolog menilai transisi ekonomi bukan akhir segalanya.

Dengan dukungan sosial dan strategi adaptasi yang tepat, pekerja tetap dapat menemukan makna dan stabilitas baru.

Ekonom Ingatkan Risiko Pengangguran dan Sektor Informal

Ekonom Bright Institute, Awalil Rizky, menilai tingginya pengangguran global bisa berdampak serius bagi Indonesia.

Menurutnya, tanpa langkah strategis seperti peningkatan kualitas SDM, kepastian regulasi, serta ekspansi usaha produktif, Indonesia berisiko menghadapi pembengkakan sektor informal dalam 10–15 tahun ke depan.

0 Komentar