Gelombang PHK Picu Trauma Turun Kelas dan Krisis Identitas, Psikolog Beberkan Dampak Micro-Burnout

Gelombang PHK Picu Trauma Turun Kelas dan Krisis Identitas, Psikolog Beberkan Dampak Micro-Burnout.
Gelombang PHK di Indonesia tak hanya berdampak pada kondisi finansial pekerja, tetapi juga memunculkan tekanan psikologis yang jarang terungkap ke publik.
0 Komentar

Ia mengutip tiga strategi utama untuk mempersempit kesenjangan lapangan kerja:

1.Membangun infrastruktur dan kualitas SDM
Pendidikan, transportasi, listrik, dan layanan kesehatan menjadi fondasi tumbuhnya investasi dan penyerapan tenaga kerja.

2.Menciptakan iklim usaha yang ramah
Regulasi yang jelas dan stabil mendorong ekspansi usaha, terutama UMKM.

3.Membantu bisnis naik kelas
Dukungan pembiayaan dan perlindungan risiko memungkinkan dunia usaha membuka lebih banyak lapangan kerja.

Baca Juga:Fabio Quartararo Frustasi, Yamaha Belum Siap dengan Mesin V4Suster Ika yang Selamatkan 13 Korban TPPO di Sikka Bertemu Dedi Mulyadi, Titip Pesan Buat Pemda

Awalil menekankan, kebijakan hari ini akan menentukan apakah bonus demografi menjadi berkah atau justru beban sosial-ekonomi.

3 Mantan Pegawai Kantoran Kini Jadi Driver ShopeeFood

Di tengah gelombang PHK, fenomena mantan pegawai kantoran beralih menjadi pengantar makanan semakin umum terjadi.

Salah satunya Andika Prasetyo dari Supervisor ke Driver.

Setelah hampir 10 tahun menjadi supervisor produksi di perusahaan manufaktur Bekasi, Andika memutuskan resign pada 2023 dan bergabung sebagai driver ShopeeFood.

Ia mengaku beban kerja, target tinggi, dan lembur panjang membuatnya tertekan.

Dengan gaji Rp 8,5 juta per bulan dan jam kerja hingga 12 jam per hari, ia merasa pendapatan per jamnya justru lebih kecil.

Kini, sebagai driver dengan jam kerja 10–12 jam per hari, ia mengaku bisa meraih Rp 15–18 juta per bulan.

Meski kehilangan status sosial, ia merasa memiliki kendali lebih besar atas waktunya.

Hal yang sama dialami Rina Amelia, korban PHK Startup.

Baca Juga:PBSI Umumkan 3 Wajah Baru di Pelatnas 2026, Ini Daftar Lengkap 74 Atlet CipayungBulog Perkuat Sinergi Jaga Harga Pangan Jelang Ramadan dan Idul Fitri 1447 H

Rina terkena PHK massal ketika startup tempatnya bekerja melakukan efisiensi dan merumahkan 30 persen karyawan.

Awalnya terpukul, ia kemudian memilih menjadi pengantar makanan untuk menjaga arus kas keluarga sambil mencari peluang lain.

Sedangkan Toni Sutrisno memilih pesangon ketimbang relokasi.

Setelah 15 tahun bekerja sebagai staf logistik, Toni menghadapi pilihan relokasi ke Surabaya atau menerima pesangon.

Demi keluarga yang sudah menetap di Jakarta, ia memilih keluar dan kini bekerja sebagai driver.

Baginya, keputusan itu berat secara psikologis, namun menjadi jalan realistis untuk mempertahankan penghasilan.

Gelombang PHK menunjukkan bahwa dampak kehilangan pekerjaan jauh melampaui urusan finansial.

Trauma penurunan kelas sosial, krisis identitas, dan micro-burnout menjadi tantangan nyata di era kerja fleksibel.

0 Komentar