Dan perlu diketahui cadangan minyak mentah terbesar dunia yang saat ini dipegang oleh Venezuela dengan 303 miliar barel, telah dikuasi oleh AS. Nilai kerannya mungkin akan tetap dipertahankan AS dan mereka bisa menjual itu di tengah konflik yang mereka buat sendiri.
Bahlil merespons bahwa pemerintah sudah punya kesepakatan dengan negara pemasok baru untuk memenuhi 20 persen kebutuhan minyak secara nasional.
“Ketika terjadi ketegangan di Timur Tengah, pemerintah atas arahan Bapak Presiden untuk mencari sumber-sumber pasokan lain untuk mengganti yang dari Middle East. Dan alhamdulillah sudah dapat. Jadi insyaallah nggak perlu ada keraguan lagi untuk pengganti dari Middle East sudah kita dapat,” ungkapnya.
Baca Juga:Dedi Mulyadi Bereskan Kemelut Bandung Zoo setelah Kolaborasi Pemkot-Pemprov JabarSerangan Isfahan Kembali Buktikan Kebohongan Trump, 3 Kota Penting Iran Dihantam Rudal Amerika dan Israel
Untuk menjamin kelangsungan dan kesejahteraan ekonomi masyarakat Indonesia, ia menegaskan bahwa sebagian besar minyak yang sudah diolah menjadi BBM dilakukan di kilang Pertamina di Balikpapan.
Kapasitasnya cukup besar –produksi bensin mencapai 5,6 juta kiloliter (setara 35.222.940 barel) dan solar 4,5 juta kiloliter (setara 28.304.200 barel). Sedangkan, secara nasional konsumsi BBM kita adalah 1,6 juta barel per hari.
“Di Januari itu kita meresmikan RDMP kita. RDMP yang di Balikpapan itu menghasilkan 5,6 juta kiloliter bensin dan kurang lebih sekitar 4,5 juta kiloliter Solar,” tegasnya.
Namun, Bahlil menegaskan yang jadi masalah di sini adalah Indonesia kehilangan 20 persen pasokan minyak mentah atau bahan bakunya. Ini yang menjadi pekerjaan cukup rumit bagi pemerintahan Prabowo.
“Jadi artinya apa? Yang kita ke depan impor yang paling banyak itu crude. Sementara yang untuk BBM yang Ron 90, 95, 98, dan 93 sebagian kita produksi di dalam negeri, sebagian kita impor dari negara Asia Tenggara,” jelasnya.
Kata Bahlil sebagian negara pengimpor minyak untuk Indonesia dari Asia Tenggara. Siapa lagi kalau bukan Singapura dan Malaysia. Diketahui, volume impor BBM (artinya produk minyak yang sudah diolah menjadi bensin) yang dikirim dari Singapura sekitar 50%-54% dari total keseluruhan.
Dalam setahun Indonesia dapat mengimpor BBM olahan dari Singapura sekitar 15,07 juta ton atau setara dengan 113 juta barel. Nilai transaksinya mencapai total USD11,4 miliar atau setara dengan Rp189 triliun per hari.
