Dedi Mulyadi pun mencontohkan seringkali orang Sunda kalah debat dengan orang Batak, Makassar, Palembang, hingga Madura.
Salah satu kebiasaan orang Sunda menunjukkan rasa pribadi dengan sebutan ‘abdi’.
Salah satu poin paling menarik adalah penjelasan Dedi Mulyadi mengenai gaya komunikasinya yang sering menggunakan kata “aing” tersebut hingga mendapat julukan ‘Bapak Aing’.
Baca Juga:Brasil Hentikan Rekor Kroasia Menang 3-1 di Laga Uji Coba Jelang Piala Dunia 2026Fakta Harga BBM Pertamina Nonsubsidi per 1 April 2026 Se-Indonesia Dipastikan Tidak Naik Jangan Panic Buying
Demikian, Dedi Mulyadi menegaskan ia mengubah sebutan ‘abdi’ menjadi ‘aing’ untuk menunjukkan identitas kesetaraan bahwa orang Sunda sekarang bukan orang Sunda yang selalu menghamba.
Menurutnya penggunaan kata ‘aing’ itu sebagai upaya membangun kesetaraan dan meruntuhkan mentalitas subordinat atau menghamba (abdi) yang selama ini melekat.
“Saya membangun kesetaraan bahwa orang Sunda sekarang bukan orang Sunda yang selalu menghamba. Itu mah untuk kaum tasawuf,” tegasnya.
Sunda Adalah Islam: Teologi Alam
Menutup pidatonya, Dedi Mulyadi juga sempat menyinggung kedalaman filosofi Sunda yang menurutnya sangat identik dengan nilai-nilai Islam.
Ia menjelaskan bahwa Sunda tidak pernah mengajarkan penyembahan benda, melainkan tauhid melalui penjagaan alam.
“Sunda dipahami dalam dua hal: ingat leluhur dan memberi sesama, serta menjaga alam. Begitu Islam datang, hampir 100 persen orang Sunda menerimanya,” ungkapnya.
Ia mengajak seluruh elemen, khususnya PUI, untuk terus memperkuat pendidikan dan teknologi demi meningkatkan martabat masyarakat Jawa Barat yang memiliki beragam karakter, mulai dari Sunda Kulon hingga Sunda Basajan.
RENDIKA MARFIANSYAH.
