Amanah

Kang Marbawi
0 Komentar

Namun demikian, yang fardu itu kadang digugat dengan tak konstitusional. Atau habis masanya. Sebab tak ada yang kekal, kecuali yang Maha Abadi. Amanah hadir untuk jiwa terpilih dan dipilih. Tentu sesuai kadar masing-masing. Kedatangannya ada yang diusahakan. Seperti para pendaki yang selalu ingin menaklukan ketinggian. Para pendaki kekuasaan yang menjadikan itu sebagai bagian dari komodifikasi, bahkan mistifikasi. Melahirkan tirani. Bercabang patronase, komodifikasi dan privatisasi kekuasaan.

Amanah kadang hadir bagai kupu-kupu hinggap di putik bunga mawar. Membantu serbuk menyebar sari dan putik hidup menjadi kecambah kehidupan. Melahirkan keberkahan untuk sesama menjadi bagian yang harus diwujudkan pada setiap Amanah. Juga mencapai tujuan institusi yang konstitusional adalah bagian dari Amanah. Memaksimalkan Amanah dengan baik untuk melahirkan kebermanfaatan dan mencapai tujuan institusi adalah bagian dari bersyukur. Juga mau belajar untuk menjalankan Amanah dengan baik dan benar. Berkata, berperilaku dan membuat sesuatu menjadi benar adalah bagian dari Amanah. Tak menjadi narsis karena Amanah yang ada. (*)

OLEH: Kang Marbawi

 

Laman:

1 2
0 Komentar