Dampak Bencana Terhadap Perbaikan Mental

Dampak Bencana Terhadap Perbaikan Mental
0 Komentar

Fenomena sosial yang dapat kita amati adalah semenjak covid-19 menelan banyak korban yang terdampak, meski awalnya kurang mendapat perhatian karena takut tertular, namun setelah merebak seolah ingin menyadarkan semua bahwa bagaimanapun penyakit itu menimpa, bukan atas maunya kita, tapi kita tinggal menjalani keadaan dan berusaha untuk keluar. Sehingga empati dan simpati ikut membuka kebersamaan.

Demikian juga saat kejadian bencana puting beliung, seolah pintu empati mendekatkan warga satu dengan yang lain, meski semula tidak saling kenal atau bahkan kurang bersosialisasi tiba-tiba dengan bencana menjadi lebih berempati. Apalagi kejadian banjir bandang, gunung meletus atau kebakaran. Meski semua dalam kondisi susah karena himpitan ekonomi tapi seolah kita melihat lukisan indahnya berbagi. Seakan duka menjadi bagian dari kepentingannya. Bencana banyak memberi pelajaran untuk memperbaiki mental kaum individualis,materialis dan hedonis. Seolah bencana menyadarkan semua atas ego yang dibanggakan.

Bencana banyak memberi pelajaran untuk memperbaiki mental kaum individualis, materialis dan hedonis. Seolah bencana menyadarkan semua atas ego yang dibanggakan. Kartini Kartono mengemukakan bahwa “orang yang memiliki mental yang sehat adalah yang memiliki sifat-sifat yang khas antara lain: mempunyai kemampuan untuk bertindak secara efesien, memiliki tujuan hidup yang jelas, memiliki konsep diri yang sehat, memiliki koordinasi antara segenap potensi dengan usaha-usahanya, memiliki regulasi diri dan integrasi kepribadian dan memiliki batin yang tenang.”

Baca Juga:Takut Jarum Suntik, Hanya 10 Persen PNS di Subang Rutin Donor DarahArteria Dahlan Minta Maaf, Kasusnya Tetap Harus Diproses

Jika demikian dengan adanya bencana bukan untuk disesali, tapi bagaimana berfikir optimis, tetap memanfaatkan kemampuan dan tidak terus menuntut orang lain, memperbaiki diri mampu melihat kekurangan, jika selama ini bangga dengan tutup mata dan telinga, dan menganggap agama hanya sebatas rutinitas, gotong royong hanya sebatas slogan, mental kita akan terbentur pada tembok ego.

Kita butuh tangan yang dapat menuntun, butuh suara yang membuka pikiran serta membantu keluar dari masalah. Perlahan tapi pasti kebanggaan yang pernah ada sedikit demi sedikit dilepaskan hingga menyadari kita bukan siapa-siapa, kesadaran inilah awal perbaikan mental yang sesungguhnya.

Banyak cara Allah mengingatkan machluknya agar senantiasa dekat denganNYA mulai dari yang memberi ujian yang ringan sampai ujian yang berat tapi Allah tetap pada ketetapannya bahwa kebanyakan manusia tidak bersyukur atas nikmatNYA meskipun berjuta fasilitas telah disediakan di bumi untuk melangsungkan kehidupan manusia di bumi. Dalam surat Ar Rahman( Surat ke 55 ) telah berulang kali disebut : Nikmat Tuhan yang manakah yang telah engkau dustakan ?

Laman:

1 2
0 Komentar