Menguak Misteri ‘Batu Kursi’ di Sukasari, Hanya Tampak saat Air Surut

BATU KURSI: Situs 'Batu Kursi' yang merupakan susunan batu menyerupai meja dan kursi di Desa Kutamanah Kecamatan Sukasari Kabupaten Purwakarta. ADAM SUMARTO/PASUNDAN EKSPRES

Rangkaian batu berukuran cukup besar tampak tersusun rapi menyerupai deretan kursi. Rangkaian batu yang diyakini sebagai situs itu ditemukan warga di wilayah Kampung Ciputat, Desa Kutamanah, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta.

Laporan: ADAM SUMARTO, Purwakarta

Menurut cerita rakyat setempat, susunan batu-batu tersebut dipercaya sebagai tempat berkumpulnya para leluhur atau para pejabat kerajaan pada zaman dahulu.

Bahkan, batu-batu yang diprediksi sudah berusia ratusan tahun tersebut disebut-sebut ada kaitannya dengan legenda Sangkuriang.

“Batu itu digunakan masyarakat terdahulu untuk menyaksikan keberangkatan Sangkuriang yang akan melamar Dayang Sumbi dan juga biasa dijadikan tempat berdiskusi,” kata Ahmad Fadil, salah seorang tokoh masyarakat Desa Kutamanah, Kecamatan Sukasari, saat ditemui belum lama ini.

Atas dasar cerita yang berkembang secara turun-temurun itulah, warga setempat menyebut susunan batu tersebut dengan sebutan situs ‘Batu Kursi’.

Yang membuatnya semakin misterius, susunan batu dengan luas kurang lebih dua petak sawah ini pun hanya dapat terlihat ketika debit air Waduk Jatiluhur surut. Pasalnya, jika debit air waduk pasang, posisi batu pun terendam air.

“Situs tersebut dinilai memiliki sejarah dan harus dilestarikan. Akan tetapi asal usulnya, atau fakta yang menyertainya memang perlu dibuktikan oleh para ahli terlebih dahulu,” ujarnya.

Ahmad menambahkan, pernah ada beberapa peneliti dari masyarakat geografi nasional Indonesia dan kelompok riset cekungan Bandung yang datang dan meneliti bebatuan tersebut. Mereka memperkirakan bebatuan itu berusia 5 sampai 15 juta tahun.

“Menurut para peneliti tersebut proses pembentukannya pada awalnya tersusun endapan, dan endapan paling bawah adalah yang paling awal,” katanya.

Ahmad yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Usaha Milik Desa Kutamanah ini berharap, ada tim ahli yang bersedia meneliti dan bisa lebih menjelaskan asal usul batu tersebut.

“Terlepas batu itu merupakan buatan manusia ataupun terbentuk secara alami, hasil penelitian itu bisa jadi modal warga untuk mengembangkan sektor pariwisata di sini,” ujarnya.(*)