Produktif di Tengah Covid-19 Berisiko di Sejumlah Daerah

Oleh: Yanyan Supiyanti, A.Md
Pendidik Generasi Khoiru Ummah, Member AMK

Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mengungkapkan bahwa produktif di tengah masa pandemi virus Corona (Covid-19) atau masa normal baru, semakin berisiko di sejumlah daerah. Vivanews.com (4/7/2020)

Juru Bicara Khusus Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, mengatakan itu dikarenakan masih cukup tingginya penyebaran wabah Covid-19 di sejumlah daerah di Indonesia. Ini karena ketidakdisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan.

Berdasarkan data hingga tanggal 4 Juli 2020, penambahan jumlah positif mencapai 62.142. Yang dinyatakan sembuh 28.219 dan meninggal 3.089.

Berdasarkan wilayah, penyebaran di Jawa Timur masih tertinggi dengan 413 kasus baru, DKI Jakarta 233 kasus baru, Sulawesi Selatan 195 kasus baru, Jawa Tengah 110 kasus baru, Bali 91 kasus baru dan Jawa Barat 88 kasus baru.

Komentar Politik:

Aktivitas untuk produktif memang sangat diperlukan masyarakat Indonesia saat ini. Karena jika tidak produktif, maka akan banyak rakyat yang kelaparan bahkan kematian mengintai. Diberlakukan PSBB, tapi tidak dipenuhi kebutuhan dasar rakyatnya. Rakyat auto bingung, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya darimana?

Padahal Islam telah menunjukkan contoh yang luar biasa bagaimana menghadapi aneka bencana. Ada pemimpin yang terpercaya, karena perbuatannya sesuai kata-katanya, dan kehidupan pribadinya sederhana. Maka, ketika mereka memerintahkan rakyatnya untuk menaati syariat (semisal karantina wilayah wabah), rakyat mematuhinya. Negara menjamin logistik warga yang dikarantina. Wabah juga diatasi dengan ikhtiar langit, dengan sabar, tawakal dan doa, serta senantiasa bermuhasabah.

Para ilmuwan juga tak mau ketinggalan. Mereka menggunakan berbagai ilmu yang dimiliki untuk mengatasi bencana. Ada dokter yang mengembangkan vaksin. Ada insinyur yang memperbaiki sumber air dan sanitasi. Dan ada juga ahli geografi yang menyumbangkan kontribusi berupa peta sebaran data bencana. Indahnya Islam bila diterapkan. (*)