Bagi David, aksi di Pasirlangu adalah pengalaman pertamanya terjun langsung ke zona bencana.
Sebelumnya, dia sempat memendam keinginan untuk membantu korban bencana di Sumatera, namun jarak yang terlampau jauh menjadi kendala.
Kini, ketika bencana terjadi di Bandung Barat, dia tak mau kehilangan momentum itu.
Baca Juga:Belanja Warga Pangandaran untuk Beli Roko Lebih Besar Ketimbang MakananKreator Konten Sewa Pacar di Tasikmalaya Resmi Jadi Tersangka
Kehadiran David bukan sekedar tentang sepiring makanan, tapi pesan kuat bahwa kemanusiaan tak membutuhkan paspor yang sama.
Di dapur umum yang sederhana itu, David membuktikan bahwa bahasa rasa adalah bahasa paling universal untuk membasuh luka para korban bencana.(*)
RENDIKA MARFIANSYAH.
