PASUNDANEKSPRES.CO – Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya dalam menjamin keselamatan awak kapal nasional yang melintasi kawasan rawan seperti Selat Hormuz di kawasan Teluk Persia.
Upaya ini dilakukan melalui koordinasi intensif lintas kementerian dan lembaga guna memastikan pelayaran berjalan aman di tengah dinamika geopolitik kawasan.
Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dwi Anggia menyampaikan, keselamatan awak kapal menjadi prioritas utama dalam setiap proses pelintasan.
Baca Juga:Purbaya Kaget Gaji Pegawai Pajak Lebih Tinggi, Soroti Kesenjangan di KemenkeuPendapatan Pajak Kendaraan Jabar Naik 300 Persen: Dedi Mulyadi Janjikan Perbaikan Jalan dan PJU
Anggia menjelasakan, Kementerian ESDM terus berkomunikasi erat dengan Kementerian Luar Negeri serta pihak terkait lainnya untuk memastikan seluruh prosedur keamanan terpenuhi.
“Dalam proses tersebut, tidak hanya soal muatan, tapi keselamatan awak kapal menjadi prioritas utama pemerintah,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Nabyl A. Mulachela.
Ia menjelaskan, sejak awal, Kementerian Luar Negeri bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tehran telah menjalin komunikasi aktif dengan otoritas setempat di Iran.
Menurut Nabyl, respons positif telah diberikan oleh pihak Iran terkait pelintasan kapal Indonesia.
Saat ini, koordinasi tersebut tengah ditindaklanjuti dalam aspek teknis dan operasional untuk memastikan keselamatan kapal beserta awaknya.
Pertamina International Shipping juga terus mempersiapkan berbagai kebutuhan teknis dan administratif.
Baca Juga:Berendam di Kaki Gunung Tangkuban Perahu Jadi Favorit, 10 Ribu Wisatawan Padati Sari Ater SubangSoal Purbaya Pangkas Rp40 T Program MBG, BGN: Semua Kementerian Memang Diminta Efisiensi
Dua kapal yang akan melintasi Selat Hormuz, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, dipastikan memenuhi standar keselamatan internasional.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron menegaskan, perlindungan awak kapal menjadi fokus utama perusahaan.
“Prioritas kami tetap pada keselamatan seluruh awak kapal, serta keamanan kapal dan muatannya,” ujarnya.
Selain aspek keselamatan, pemerintah juga mengambil langkah strategis untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Salah satunya dengan melakukan diversifikasi sumber impor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM), sehingga tidak bergantung sepenuhnya pada kawasan Timur Tengah.
Langkah ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk memperluas sumber pasokan energi dari berbagai negara.
Sepanjang 2025, Pertamina tercatat mengimpor 135,33 juta barel minyak mentah, dengan sekitar 19 persen berasal dari Arab Saudi.
Sementara sisanya dipasok dari kawasan lain seperti Afrika, Amerika Serikat, Amerika Latin, serta negara-negara Asia Tenggara.
