PASUNDANEKSPRES.CO – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI Bahlil Lahadalia menekankan bahwa Indonesia sudah tidak mungkin mengimpor minyak mentah (crude oil) dari Timur Tengah (Timteng).
Ya, masalah utamanya karena konflik perang Amerika Serikat dengan Iran, membuat rantai pasokan minyak tertahan di Selat Hormuz. Bahkan nasib dua kapal tanker minyak milik Pertamina yang tertahan di sana masih penuh tanda tanya.
Pemerintah telah menetapkan bahwa tidak ada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) meski di tengah ketidakpastian di Timteng. Namun dalam aturan ini ada turunan kebijakan yang tak bisa terelakkan, yakni pembatasan konsumsi BBM nasional.
Baca Juga:Dedi Mulyadi Bereskan Kemelut Bandung Zoo setelah Kolaborasi Pemkot-Pemprov JabarSerangan Isfahan Kembali Buktikan Kebohongan Trump, 3 Kota Penting Iran Dihantam Rudal Amerika dan Israel
Khususnya pengguna solar subsidi. Pengguna atau penerima manfaat jenis BBM ini dibatasi 50 liter per hari. Penggunanya wajib bertransaksi lewat aplikasi MyPertamina atau menggunakan scan QR berdasarkan data kendaraan.
Selasai di situ, pemerintah kini harus memutar otak untuk mengalihkan 20 persen pasokan minyak Timteng ke negara lain. Isu yang beredar saat ini ada sang tuan besar Amerika Serikat, digadang-gadang akan menjadi penyuplai impor minyak bagi Tanah Air.
Bahlil, kemarin Selasa, 31 Maret 2026 menekan bahwa ada dua hal sumber energi yang amat dibutuhkan Indonesia yakni minyak mentah dan gas.
“Untuk menjamin pasokan BBM kita, ada dua hal yang perlu dipahami. Yang terdampak dari Timur Tengah itu crude-nya, sementara minyak jadinya tidak semuanya dari sana. Kedua adalah LPG,” ujar Bahlil saat konferensi pers, Selasa, 31 Mret 2026.
Ia menegaskan, Indonesia telah mengantisipasi potensi gangguan pasokan bahan bakar minyak (BBM) dengan mencari sumber alternatif di luar kawasan Timteng. Jadi kita stop memikirkan pasokan minyak maupun gas dari Timteng. Lupakan sejenak.
Siapa Pemasok Minyak dan Gas Indonesia?
Ada slot 20 persen baik gas maupun minyak yang harus disediakan pemerintah. Menurut data yang kami himpun, Amerika Serikat menjadi pemain utama dengan produksi dan ekspor crude hingga 20 juta barel per hari (bph).
Di bawah AS ada Arab Saudi (11,6 juta bph), Rusia (10,8 juta bph), Kanada (5,4 juta bph) dan Tiongkok (4,5 juta bph).
