PASUNDANEKSPRES.CO – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi kembali menjadi sorotan saat menyoroti karakteristik orang Sunda.
Hal ini diungkapkan Dedi Mulyadi saat menghadiri acara Persatuan Ummat Islam (PUI) Jawa Barat di Balai Gede, Gedung Pakuan, Kota Bandung, beberapa waktu lalu.
Dalam pidato Dedi Mulyadi membedah empat “penyakit” yang menurutnya sering menghambat kemajuan warga Sunda dan Jawa Barat.
4 Penyakit Warga Sunda
Baca Juga:Brasil Hentikan Rekor Kroasia Menang 3-1 di Laga Uji Coba Jelang Piala Dunia 2026Fakta Harga BBM Pertamina Nonsubsidi per 1 April 2026 Se-Indonesia Dipastikan Tidak Naik Jangan Panic Buying
Ia menyebut keempat penyakit itu di antaranya sifat pundungan (mudah tersinggung), borangan (penakut), sulit bekerja sama, hingga kebiasaan melupakan kerabat saat sedang berkuasa.
“Orang Sunda kalau bertengkar bicaranya bisa satu jam, tapi tidak memukul-mukul, cuma bicara saja,” ujar Dedi Mulyadi disambut tawa hadirin.
Ia menekankan bahwa di tengah heterogenitas Jawa Barat saat ini, masyarakat Sunda sekadar bangga dengan masa lalu.
“Orang Sunda tidak boleh sombong dengan payung butut” (agul ku payung butut). Itu mah zaman Pajajaran. Sekarang kan sudah ada Majapahit, Sriwijaya, Makassar. Jadi syarat orang Sunda sekarang itu cuma satu, Harus bangga dengan “payung butut” itu (agul ku payung butut),” ujar Dedi Mulyadi.
Sebagai informasi, “agul ku payung butut” adalah salah satu peribahasa atau babasan dalam bahasa Sunda yang memiliki makna cukup mendalam mengenai sifat manusia.
Agul artinya bangga, pamer atau sombong, ku artinya oleh/dengan, payung artinya payung, butut artinya jelek, rusak atau rongsok.
Secara filosofis, peribahasa “agul ku payung butut” menggambarkan seseorang yang menyombongkan sesuatu yang sebenarnya tidak berharga, atau membanggakan kekayaan/kejayaan masa lalu (milik leluhur) padahal kondisi dirinya saat ini sedang susah atau tidak memiliki apa-apa.
Baca Juga:Pramono Pastikan WFH ASN Setiap Jumat Tak Ganggu Pelayanan Publik di JakartaDedi Mulyadi Bereskan Kemelut Bandung Zoo setelah Kolaborasi Pemkot-Pemprov Jabar
Demikian Dedi Mulyadi menekankan agar warga Sunda tak boleh lagi berbangga diri atas sesuatu yang tak berarti.
Dedi Mulyadi menekankan warga Sunda harus berani bersaing dan “bertengkar” di tempat orang lain agar menjadi jagoan sejati.
Meskipun menunjukkan sisi damai orang Sunda, dalam konteks pidato tersebut Dedi Mulyadi juga mendorong agar orang Sunda tidak menjadi penakut (borangan) dan berani menunjukkan jati diri serta bersaing di luar daerahnya sendiri.
