Puncak perjuangan politiknya terjadi pada 25 Desember 1912 saat ia mendirikan indische Partij bersama dua rekannya, Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo.
Organisasi tersebut mempunyai tujuan yang sangat progresif, yaitu mencapai kemerdekaan Indonesia.
Kemudian setahun berselang, ia juga turut membentuk Komite Bumiputra sebagai bentuk protes terhadap perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Prancis.
3. Mendirikan Taman Siswa
Baca Juga:Penuh Haru, 8 Korban Selamat dari Kecelakaan Kereta Bekasi Timur Tepat di Hari Ulang TahunnyaDDC 2026 Tawarkan AI Dongkrak Produktivitas, Talenta Digital Kian Diburu
Setelah kembali di Tanah Air pada tahun 2918, Ki Hadjar mulai memfokuskan perjuangannya di dunia pendidikan.
Tanggal 3 Juli 1922, ia bersama rekan-rekannya mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa.
Lembaga tersebut menjadi tonggak pendidikan untuk rakyat jelata yang selama ini masih kesulitan mendapatkan akses sekolah.
Keberadaan Taman Siswa ini sempat terancam oleh kebijakan Belanda.
Pada 1 Oktober 1932, pemerintah kolonial mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar” (Wilde Schoolen Ordonantie) untuk membatasi aktivitas sekolah-sekolah swasta nasional.
Tetapi, aturan ini kemudian dicabut oleh Belanda setelah diprotes masyarakat, termasuk gerakan kaum perempuan yang mendukung perjuangan Ki Hadjar Dewantara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
