OPINI  

Analisis Kesesuaian Perubahan Kurikulum dengan Mata Pelajaran Geografi

Analisis Kesesuaian Perubahan Kurikulum dengan Mata Pelajaran Geografi

Oleh :
Yulia Enshanty S.Pd ( Mahasiswa Magister Pendidikan Geografi, Pascasarjana Universitas Siliwangi, Guru Geografi SMAN 1 Warungkiara, Kabupaten Sukabumi)

Geografi sebagai mata pelajaran di sekolah menjadi sangat penting dan memberikan sumbangsih untuk mengatasi permasalahan lokal, regional maupun dunia, serta membentuk warga negara yang bertanggung jawab dan berkontribusi pada permasalahan bangsa dan dunia.

Indonesia dengan hampir 5 juta km2 luas wilayah, dengan ribuan budaya, potensi sumber daya berlimpah, perbedaan ruang wilayah, dan penduduk yang besar, pasti perlu memahami sekali bahwa anugerah yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa harus dijaga dan dimanfaatkan sebagai bekal kelangsungan hidup bangsa ini dan masyarakat dunia. Kurikulum merdeka berisi profil pelajar Pancasila.

Profil Pelajar Pancasila merupakan ciri karakter dan kompetensi yang diharapkan untuk diraih oleh peserta didik, yang didasarkan pada nilai-nilai luhur Pancasila. Sesuai dengan konsep Pelajar Pancasila Berkebhinekaan global, karakteristik keilmuan geografi sungguh tepat menjadi salah satu mata pelajaran yang diberikan dari pendidikan tingkat dasar, menengah, hingga tinggi (Standar et al., 2022).

Mata pelajaran geografi dapat mendukung pengembangan karakter dan kompetensi siswa dalam beberapa hal, antara lain dapat membantu siswa untuk mengembangkan karakter peduli lingkungan, toleransi, dan gotong royong.

Mata pelajaran geografi juga dapat membantu siswa untuk mengembangkan kompetensi berpikir kritis, memecahkan masalah, dan berkomunikasi.

Kurikulum Merdeka memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk mengembangkannya sesuai dengan kebutuhannya, hal ini memberikan kesempatan kepada sekolah untuk mengembangkan mata pelajaran geografi sesuai dengan kebutuhan siswa dan lingkungannya.

Misalnya sekolah yang berada dekat pantai, dapat mengembangkan mata pelajaran geografi dengan fokus pada materi-materi yang terkait dengan lingkungan pantai, seperti mempelajari karakteristik pantai, menganalisis bagaimana pemanfaatan pantai untuk kehidupan masyarakat dan bisa juga membahas mengenai permasalahan lingkungan di sekitar pantai. Selain itu, dalam kurikulum merdeka, sumber belajar yang dapat digunakan beraneka ragam, pembelajaran geografi dapat dilaksanakan tidak selalu di ruangan kelas, tetapi juga dapat memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai tempat dan sumber belajar. Misalnya guru dapat memanfaatkan sumber-sumber lokal seperti sungai, pantai, taman nasional, atau instansi seperti BMKG, BPBD, DPPKB untuk memperkaya pembelajaran geografi.

Perubahan kurikulum ini memang memiliki kesesuaian dengan mata pelajaran geografi, namun dalam pelaksanaannya ada beberapa tantangan yang dihadapi. Implementasi kurikulum merdeka, tantangan utamanya adalah kesiapan para guru dan staf sekolah.

Kurikulum merdeka menekankan pada pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan. Pembelajaran yang demikian membutuhkan sarana dan prasarana yang memadai. Hal ini menjadi tantangan bagi sekolah, terutama sekolah yang berada di daerah terpencil.

Tantangan lain yang dihadapi para guru dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka adalah kesulitan menemukan metode yang tepat untuk mendorong siswa belajar mandiri. Selain itu, budaya sekolah yang masih berorientasi pada hasil ujian juga menjadi tantangan tersendiri dalam penerapan kurikulum merdeka. Kurikulum merdeka menekankan pada pengembangan karakter dan kompetensi siswa, bukan hanya pada hasil ujian. Oleh karena itu, diperlukan perubahan budaya sekolah agar lebih mendukung pengembangan karakter dan kompetensi siswa.

Tantangan lainnnya adalah bagaimana mengubah pola pikir warga sekolah, khususnya guru dimana pusat proses pembelajaran adalah siswa bukan guru.

Artinya, guru harus mampu menumbuhkan motivasi siswa agar mereka giat belajar.

Sayangnya dalam praktek di lapangan, masih banyak proses pembelajaran yang berorientasi pada guru dan dapat menjadi penghambat implementasi kurikulum merdeka (Khusni et al., 2022). Siswa sebagai pusat pembelajaran bukanlah hal yang baru dalam kurikulum kita, namun realisasinya dapat terlihat dengan jelas diimplementasikan dalam kurikulum merdeka. Hal ini dapat diamati melalui proses pembelajaran berbasis proyek dalam kurikulum ini seperti pembuatan prototype sebuah alat peraga dan penggunaan penilaian otentik (Kerman et al., 2022).