Seri Belajar Filsafat Pancasila 10

Memaknai Sila Pertama
“KETUHANAN YANG MAHA ESA”
Bagian Ketiga

Oleh: Kang Marbawi

Salah sejahtera untuk saudara sebangsa setanah air. Semoga bangsa yang kita cintai ini mampu menghadapi dan melewati persoalan-persoalan yang saat ini sedang dihadapi. Dan rakyatnya tetap mencintai dan berhati satu untuk Indonesia. Minggu lalu kita mendiskusikan arti Iman,Islam dan Ihsan. Serta beragama itu bertujuan untuk menyebarkan kedamaian dunia dan akhirat.

Kali ini kita akan mendiskusikan bagaimana kita menjalankan keberagamaan kita sebagai bukti dari keimanan kita. Beriman itu tidak hanya yakin akan nilai-nilai aqidah yang dianutnya akan membawa kepada kebahagiaann dan arah yang lebih baik dalam hidupnya. Beriman itu juga harus disertai dengan konsistensi kita untuk menerapkan dan menjalankan nilai-nilai dari ajaran agama kita. Nilai-nilai keimanan kita tersebut jelas harus sesuai dengan perilaku kesehatian kita.

Kesesuaian antara keyakinan atau keimanan itu harus keluar dari hati. Sebab beriman itu haruslah bersifat intersubyektif. Yaitu keimanan yang kita yakini itu harus mengakar pada konteks kehidupan keseharian kita. Dan tidak berhenti pada dogma atau doktrin yang kering dan dipaksakan. Sebagai contoh ada banyak hadits yang menunjukkan keimana kita harus berakar pada konteks keseharian kita. Dalam arti keimanan kita harus tergambar dalam laku kehidupan sehari-hari.

Salah satu contoh hadits terkait keimanan yang kontekstual adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu- menceritakan dari Nabi Muhammad tentang keimanan berkaitan dengan konteks sosial yang menyeluruh. Beliau ‎bersabda, ‏”Man kāna yu`minu billāhi”‏ (siapa yang beriman kepada Allah)‎ Ini adalah kalimat syarat, jawabannya, “Fal yaqul khairan aw liyaṣmut” (hendaklah ia berkata yang baik atau diam). Maksud redaksi hadis ini adalah anjuran ‎dan motivasi untuk berkata yang baik atau diam, seakan-akan beliau ‎berkata: Jika engkau beriman kepada Allah dan hari Akhir maka ‎katakanlah yang baik atau diam. “Fal yaqul khairan” (hendaklah ia berkata yang baik).

Seperti mengatakan ucapan yang pada dasarnya bukan termasuk kebaikan, namun dia mengucapkannya untuk membuat teman-‎teman duduknya bergembir, maka ini adalah suatu kebaikan karena dapat ‎menimbulkan keramahan, menghilangkan ketegangan, dan tercapainya ‎kasih sayang.‎ ‏”aw liyaṣmut”‏‎ yakni diam.

‏”Wa Man kāna yu`minu billāhi wal yaumil ākhiri fal yukrim jārahu”‏‎ (dan siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tetangganya) yakni tetangganya di rumah, dan ‎zahir hadisnya mencakup tetangganya di tempat berdagang, ‎seperti tetanggamu di toko misalnya, namun makna yang pertama lebih ‎jelas yakni tetangga di rumah, dan setiap kali tetangga itu dekat darimu ‎maka haknya lebih besar. Nabi memutlakkan kata memuliakan, ‎dengan sabdanya, ‎‏”fal yukrim jārahu” ‏‎(maka hendaklah ia memuliakan ‎tetangganya) dan beliau tidak mengatakan misalnya dengan ‎memberikan dirham, sedekah, pakaian atau yang semisal dengan itu. ‎Dan nas apapun yang disebutkan secara mutlak di dalam syariat ‎maka dikembalikan kepada ‘urf (kebiasaan/adat,dikutip dari sumber).

Ini menunjukkan bahwa beriman harus tergambar dalam perilaku keseharian kita. Inilah dasar utama dalam menjalankan keagamaan kita. Iman harus hidup dan menjawab beragam permasalahan manusia, baik permasalahan eksistensial, maupun masalah sosial yang sedang dihadapi di depan mata. Iman harus keluar dari hati, dan mewujud menjadi tindakan nyata, yang berupaya menjadikan dunia sebagai tempat yang lebih baik bagi semua orang, tanpa kecuali.

Keimanan kita juga harus terus dipupuk. Sebab keimanan kita bersifat fluktuatif. Kadang jika frekuensinya lagi “bagus”keimanan kita meningakt,namun jika sedang sinyalnya “jelek”karena berbagai hal, keimanan kita menjadi turun. Karena itu keimana kita haruslah terus mencari. Iman tidak stagnan atau berjalan di tempat. Stagnannya keimanan tersebut, karena hanya memahami ajaran dengan dangkal. Ketika keimanan stagnan maka bisa jadi keimanan kita akan menjadi buta karena kita merasa sudah selesai dengan keimanan kita dan menganggap yang lain tidak beriman. Iman harus berproses, mencari, dan tak berhenti bergerak, sampai kita mati. Keimanan kita harus menggali refleksi lebih dalam secara terus menerus, guna memberi makna yang lebih dalam bagi hidup manusia. Dengan terus menerus menggali makna keimanan kita yang ditujukan untuk memberikan makna bagi kehidupan manusia, maka keimanan kita koheran dengan perilaku kita sehari-hari. Percuma orang Iman, mengaku beriman dan beragama, kalau tindakannya koruptif, manipulatif, dan tidak adil kepada sesama. Sungguh percuma.

Kedangkalan memahami makna keimanan tersebut akan melahirkan truth claim atau pandangan merasa “yang paling benar”. Klaim merasa yang paling benar dalam soal keimanan tersebut akan melahirkan pandangan kepada yang tidak sejalan dengan dirinya adalah tidak benar, bahkan mengkafirkan. Sempitnya atau dangkalnya pemahaman ajaran agama atau keimanan tentang nilai-nilai kemanusiaan akan melahirkan sikap intoleran kepada orang yang tidak sepaham, seagama, sekelompok dengan dirinya.

Inilah salah satu tantangan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Ketuhanan yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Semoga bermafaat, waalahu alam bissawab. Kang Marbawi.