Ghetto

Belajar Filsafat
0 Komentar

Komunalisme atau kebersamaan yang berwarna-warni seperti Pelangi setelah hujan, bertekuk lutut dalam penataan identifikasi ekonomi dan sosial satu warna. Hilang seolah debu tertiup angin. Berganti dengan nilai-nilai baru yang di negosiasikan melalui simbol, pasar, ekonomi dan praktik sosial. Tak lupa praktik keagamaan dan paham ikut adu tawar. Bounded system menjadi alatnya.
Tak hanya perumahan. Segala rupa perkumpulan pun dirasuki, bounded system. Mendedahkan bentuk solidaritas baru dengan logika yang dipaksa sama, sesuai dengan pelakon yang terlibat dalam proses konstruksinya. Asal isinya sama, tak boleh beda. Yang beda adalah the others, orang lain yang tak pantas ada.
Cara pandang the others, membentengi bauran masyarakat seperti berbaurnya orang dipasar rakyat. Yang tak peduli bau keringat dari kuli atau pedagang ikan.

Selama masih dalam teritori pasar, semua adalah warga pasar yang saling menghormati dan berbagi untung sesuai kadar dagangan. Tak lebih.
Perumahan eksklusif seolah meruang kembali GHETTO yang dipermak modern. Dulu ghetto adalah bentuk diskriminasi pemisahan orang ditempat yang tertutup, kumuh, padat, bersarang bersama para kecoa dan segala jenis binatang pengerat atau pengutil. Tanpa sarana prasarana manusiawi. Istilah ghetto merujuk pada pemukiman kaum minoritas. Tertindas! Itu dulu.

Salahkah Tauke, membuat ghetto eksklusif untuk pemilik hepeng banyak? Atau menampung segolongan orang yang segalanya hampir sama. Tentu tidak! Malah dianjurkan. Asal tak memunggungi aturan. Menjamurnya ghetto eksklusif, menaikkan derajat kemajuan sebuah kota. Dianggap berhasil melancungkan pembangunan dan taraf hidup masyarakat.
Praktik dan pranata sosial baru yang terjadi di ghetto eksklusif, membanting ikatan-ikatan tradisional. Seperti petinju yang meng KO (Knock Out) lawannya. Terkapar, terjungkal tak mampu berdiri tegak. Budaya lokal kehilangan kontrol terhadap lahirnya jabang bayi sistem sosial eksklusif tertentu -bounded system.

Baca Juga:DPRD Agendakan Pelantikan PAW Anggota DPRD SubangWarga Diminta Waspada Cuaca Ekstrem di Purwakarta, Rawan Hujan Disertai Angin Puting Beliung

Otoritas tradisional semacam, pupuhu, leube’, kepala suku, kepala rukun warga dan jabatan kepala-kepala tradisional lainnya, teronggok lesu dipojok. Percis kucing disiram air. Kehilangan otoritas, silau oleh sistem yang dibangun oleh logika pasar, ekonomi, sosial dan paham tertentu itu.

0 Komentar