Almarhum Sempat Pulang Ke Subang

BERDUKA: Suasana kantor Grab Subang di Jalan Otista, Rabu (22/1). INDRAWAN SETIADI/PASUNDAN EKSPRES

SUBANG-Ditemukannya mayat yang diduga seorang driver taxi online, yang menjadi korban pembunuhan menjadi perhatian bagi masyarakat Subang. Terlebih saat jenazah diantarkan oleh ratusan pengemudi ojek online setibanya dari bandung setelah dilakukan outopsi pada Selasa malam (21/1).

Atas peristiwa tersebut, pihak Grab yang merupakan perusahaan dimana korban bermitra sebagai driver juga buka suara. Saat ditemui di kantornya yang beralamat di Jalan Otista Subang, Pasundan Ekspres diarahkan langsung pada manajemen Jawa Barat, yang diwakilkan oleh Mawadi Lubi. Mewakili perusahaan, dirinya turut berbelasungkawa, dan prihatin pada peristiwa tersebut. Dia berharap pada pihak keluarga ditinggalkan agar diberi ketabahan dan keikhlasan selalu.

“Kami mewakili perusahaan turut prihatin. Kami berbelasungkawa. Sesuai dengan komitmen, kami akan memberi bantuan dan siap bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk mengungkap dan menangkap pelaku. Semua data yang polisi perlukan sudah kami berikan juga,” katanya.

Sementara itu, pihak manajemen Grab Subang, Meggy Setiawan menjelaskan, jam-jam terakhir sebelum almarhum akhirnya loss kontek, dari hasil data yang terdeteksi dalam sistem internal grab, almarhum mengambil order sekitar pukul 19.55 WIB. Kemudian menyelesaikan orderan tepatnya di Padalarang sekitar pukul 22.53 WIB.

“Dalam aplikasi almarhum itu, terdeteksi terselesaikan orderan tersebut sekitar 22.53 WIB. Otomatis, sistem kami juga akan selesai. Tidak bisa melihat pergerakan almarhum dari mana, pergi kemana lagi. Namun ada lagi orderan masuk yang terdeteksi oleh sistem kami, yaitu sekitar pukul 00.54 di PVJ Bandung, namun di cancel,” jelas Meggy.

Dalam benaknya setelah melihat riwayat order pada sistem, Meggy menduga, jika pukul 00.54 WIB mendapati orderan namun dicancel, maka almarhum sepertinya menuju arah pulang. Kemudian dia juga menjelaskan, pukul 01.30 WIB almarhum mengirim pesan suara ke salah satu rekannya. Dari percakapan pesan suara itu, diketahui almarhum sudah berada di Jalancagak. Kemudian pukul 01:55 WIB almarhum mengirimkan lokasi melalui aplikasi WA, titiknya menurut Meggy ada di Puri Subang Asri.

“Nah setelah itu, baru tidak ada kontak sama sekali, hilang kontak. Baru sekitar pukul 03.15 WIB, almarhum ditemukan sudah tidak bernyawa. Polisi melakukan olah TKP pada waktu itu hingga pukul 05.00 WIB. Jadi bisa disimpulkan, sebenarnya orderan dari penumpang sudah selesai sejak pukul 22.53 WIB. Namun sepertinya, almarhum melakukan aktivitas lain sehingga kita tidak bisa melacak secara sistem,” tambahnya.

Dari beberapa kejadian pembegalan yang menimpa para driver taksi online, Meggy mengungkapkan, memang modusnya selalu demikian. Diselesaikan dulu orderannya, kemudian penumpang beralasan tidak bawa uang, minta diantar ke kerabatnya atau siapapun, dengan iming-iming biaya ongkos ditambah.

“Maka saya mau sampaikan pada mitra kami, jangan pernah melakukan aktivitas lain, atau dikenal dengan istilah narik offline. Apalagi di jam rawan. Jika dalam aktivitas online, setidaknya tersedia mode darurat. Jadi nanti driver tinggal menekan tombol itu jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, itu akan langsung terhubung dengan satgas kami, yang siap 24 jam, sebagai security sistem dari Grab,” pungkasnya.(idr/vry)