Ekhsibisi Mengolah Limbah Lingkungan dan Rumah Tangga Bernilai Ekonomis

“Jadi kalau lihat sampah tidak cepat menyimpulkan sampah, karena itu bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.

“Contoh bangunan Uwuh Art ini, awalnya itu bedeng bekas kontraktor. Kita ‘reuse’ dari pada dibuang dan berdampak buruk bagi lingkungan lebih baik kita gunakan menjadi sebuah karya. Jadi apapun yang ada di lingkungan ataupun di rumah bisa kita ‘reuse’ supaya memiliki nilai dan kegunaan kembali,” paparnya.
Patrick menerangkan, untuk mengendalikan dampak negatif dari sampah harus dilakukan dengan kesadaran kolektif. Sebab, dengan bersama-sama persoalan sampah yang dari tahun ke tahun menjadi masalah di masyarakat bisa teratasi.

“Tidak hanya dengan para pemuda, ibu rumah tangga, kita juga berkolaborasi dengan anak-anak SD. Membangun kesadaran dan kecintaan terhadap lingkungan harus dimulai oleh semua usia,” tegasnya.

Peraga dari Uwuh Art, Astera Dominica menambahkan, dirinya terpikir membuat pot bunga dari bahan limbah pakaian dan kain bekas lainnya dikarenakan rasa prihatinnya terhadap lingkungan. Tidak sedikit masyarakat yang belum sadar terhadap lingkungan membuang limbah rumah tangga. Seperti kasur dan kursi langsung ke sungai dan mengakibatkan dampak buruk bagi lingkungan.

“Memang saya sebelumnya melukis kain atau baju, tapi materialnya ramah lingkungan. Saya juga harus memperhatikan keamanan dan dampak lingkungan. Jadi bahannya organik, termasuk cat yang digunakan pun ramah lingkungan,” tandasnya.(eko/vry)