JANGAN JADI MEDIA SAMPAH!

MOHAMAD FAUZI
*DIREKTUR PASUNDAN EKSPRES

SEBELAS tahun sudah usia Harian Umum Pasundan Ekspres, Selasa, 26 Maret 2019. Segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah subhanahu wata’ala, Tuhan Yang Maha Esa. Salawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Dan rasa hormat kami haturkan kepada segenap pembaca budiman koran Pasundan Ekspres.

Pengantar ini wajib kami sampaikan karena itulah yang layak kami utarakan. Betapa tidak, perjalanan selama 11 tahun tidak dilalui dengan mudah. Silih berganti generasi tidak bisa dihindari. Yang tetap meneguhkan hati adalah mereka yang yakin akan eksistensi koran ini.

Fakta lapangan menunjukkan bahwa eksistensi dan kuantiti media massa seperti koran dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini bisa kita rasakan. Tidak sedikit yang mati terkubur derasnya gelombang media informasi lainnya, sebut saja media sosial. Banyak pula gulung tikar karena tidak profesional dalam manajerial. Tidak sedikit pula mati suri, kadang terbit kadang tidak. Masih ada saja nakalnya oknum pengelola media atau juga lacurnya oknum pegiat jurnalistik masih sering kita jumpai juga jadi penyebabnya. Ada pula karena kanibalisasi perusahaan media dengan alasan beragam dengan menggendong sumber daya manusia di satu media ke media baru, dan banyak hal lainnya dengan berbagai alasannya. Itu juga fakta. Ya, semua adalah nyata yang kita lihat belakangan ini. Apalagi di pengujung tahun politik ini. Semua bisa terjadi, asal jangan media kehilangan jati diri.

Jati diri utama media massa adalah sebagai kontrol sosial. Mewartakan fakta dengan data bukan menyiarkan hoax dan fitnah. Soal bisnis, iklan misalnya, percayalah pengiklan justru lebih trust kepada media massa yang memiliki jati diri dan menjunjung tinggi kode etik.

BACA JUGA:  Jalan Sehat Diikuti 7.500 Peserta, Eksistensi Membangun Masyarakat

Satu contoh kecil bahwa netralitas, independensi atau keberpihakan media jelang pilpres yang dalam hitungan hari nanti sudah sama-sama disaksikan dan dirasakan publik. Sedemikian rupa konten media dan harus diawasi. Sebut saja Peraturan Dewan Pers Nomor: 6/Peraturan-DP/V/2008 tentang Pengesahan Surat Keputusan Dewan Pers No. 03/SK-DP/III/2006 tentang Kode Etik Jurnalistik sebagai Peraturan Dewan Pers tentang Kode Etik Jurnalistik.

Tidak sedikit media menjadi partisan, namun masih ada juga tetap konsisten.
Pasundan Ekspres yang pembaca sedang baca ini tentu ada penilaian tersendiri atas konten berita selama ini. Sebagai media di daerah tentu saja kami konsisten menyampaikan lebih banyak informasi lokal. Itu yang kami patok menjadi pondasi operasial semua tim. Agar fungsi dan peranan media di daerah tetap terjaga. Berita kasuistik daerah tentu bisa berbeda dengan daerah lainnya. Juga tidak sedikit ada banyak persamaannya. Menyampaikan kejadian, informasi pembangunan hingga kasus penyimpangan.

Menggali informasi lokal sejujurnya tidak akan habis dikupas dan dikemas. Itu jauh lebih berkualitas dibanding hanya sekadar berita politik yang berebut pepesan semata. Sekalipun info politik itu sangat penting saat ini. Tentu info yang valid, dan sesuai fakta, bukan hoax.

Disadari atau tidak, informasi seputaran politik belakangan terkadang seringkali terjadi benturan publik di lapangan. Karena beda pandangan politik bisa jadi antartemen, dengan tetangga tidak lagi tegur sapa. Itu yang musti dihindari media. Kontestasi pilpres itu wahana, jangan malah jadi pecah bersaudara.

Pembaca budiman, cerdaslah memilih media. Jangan penuhi isi kepala kita dengan informasi tak berguna atau sampah.

Sekadar memberi saran sebaiknya konsumsilah berita yang bermutu. Atau jalinlah kerjasama dengan media massa yang dipercaya, sudah terverifikasi Dewan Pers, berbadan hukum dan berkantor jelas. Untuk apa? Tentu untuk kebaikan bersama. Agar akuntabilitasnya bisa dipertanggungjawabkan.

BACA JUGA:  Jualan Koran Sejak Tahun 1987, Tantangan di Era Digital

Bagi narasumber, dewasa ini jangan lagi merasa alergi, gerah apalagi takut dengan pegiat media, jika anda merasa tidak merugikan rakyat dan negara. Sebab keduanya dilindungi undang-undang. Para pegiat media harus terus menjunjung tinggi kode etik jurnalistik, sebab kehormatan jurnalis dan pegiat media disitulah letak pembedanya. Media tanpa kode etik jurnalistik sama halnya media sampah. Media tanpa kehormatan etik sama dengan merusak tatanan demokrasi. Sebab media yang terus menerus mewartakan kebohongan akan dianggap sebuah kebenaran. Itu yang paling berbahaya! Hentikan itu. Tetaplah konsisten menjadi media massa yang memiliki kehormatan. Jangan jadi media sampah. Selain berdosa juga tak akan lagi dipercaya pembaca dan pelaku bisnis.

Selamat hari ulang tahun Harian Umum Pasundan Ekspres ke-11. Semoga Allah subhanahu wata’ala, Tuhan Yang Maha Kaya selalu memberkahi kita semua. Aamiin.(*)