Angka Perceraian di KBB Tinggi, Rata-rata 10 Kasus Perhari

KASUS PERCERAIAN TINGGI: Bupati Bandung Barat, Aa Umbara Sutisna kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengurus Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) KBB di Lembang, belum lama ini.

NGAMPRAH-Sedikitnya 300 kasus perceraian terjadi setiap bulannya di Kabupaten Bandung Barat (KBB). HAl itu disebabkan banyak faktor, diantaranya masih banyaknya kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), permasalahan ekonomi hingga perselingkuhan.

“Ternyata kasus KDRT masih menjadi penyebab utama tingginya angka perceraian di Bandung Barat, selain permasalahan ekonomi dan perselingkuhan,” kata Bupati Bandung Barat, Aa Umbara Sutisna dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengurus Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) KBB di Lembang, belum lama ini.

Tingginya angka perceraian yang rata-rata mencapai 10 kasus setiap harinya sangat berpengaruh pada indeks kebahagian masyarakat Bandung Barat. “Padahal tujuan utama Visi AKUR dan Jargon Bandung Barat Lumpaaat adalah terciptanya masyarakat yang bahagia. Mudah-mudahan kedepannya angka perceraian bisa terus ditekan,” katanya.

Salah satu solusinya adalah dengan lebih mengoptimalkan peran P2TP2A bisa membangkitkan kesetaraan dan keadilan gender yang mampu mengikis faktor-faktor perceraian. Sehingga indeks kebahagiaan masyarakat Kabupaten Bandung Barat akan terus meningkat.