Awal Tahun, Jumlah Penduduk Provinsi Jawa Barat Diprediksi 50 Juta

Penduduk Provinsi Jawa Barat

BANDUNG-Jumlah penduduk Provinsi Jawa Barat diprediksi mencapai angka 50 juta penduduk pada awal tahun tahun depan. Hal itu diungkapkan Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Barat Kusmana pada webinar Hari Kependudukan Sedunia 2020 yang digelar BKKBN Jawa Barat bekerjasama dengan Koalisi Kependudukan Indonesia (KKI) Jawa Barat dan Universitas Padjadjaran (Unpad), Sabtu (11/7).

Webinar menghadirkan narasumber Kepala BKKBN Hasto Wardoyo, Rektor Unpad Rina Indiastuti, Ketua Dewan Profesor Unpad Sutyastie Soemitro Remi, Produser Eksekutif Kompas TV Abie Besman, dan tokoh remaja Jawa Barat Putri Gayatri.

Kusmana menjelaskan, situasi kependudukan Jawa Barat perlu mendapatkan perhatian serius para pemangku kepentingan. Sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia sekaligus tetangga ibu kota, Jawa Barat memiliki peran strategis dalam pembangunan di Indonesia.

“Sesuai proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk Jawa Barat akan mencapai jumlah 50 juta pada tahun ini atau awal tahun depan. Ini patut mendapat perhatian serius mengingat wajah kependudukan nasional akan sangat dipengaruhi kependudukan Jawa Barat. Baik-buruknya kependudukan nasional akan sangat bergantung kepada Jawa Barat,” kata Kusmana.

Baca Juga: Ekonomi Kreatif Dorong Pembangunan Wilayah Provinsi Jawa Barat

Angka perkawinan tinggi

Situasi terkini kependudukan Jawa Barat, sambung Kusmana, sampai saat ini masih diwarnai laju pertumbuhan tinggi, jumlah usia muda yang tinggi, dan angka perkawinan muda yang juga tinggi. Pada saat yang sama, angka kematian bayi dan angka kematian ibu juga masih tinggi. Belum lagi rata-rata lama sekolah yang masih berkutat pada angka delapan tahun. Artinya, rata-rata penduduk Jawa Barat hanya mengenyam pendidikan kelas 2-3 SMP. “Bonus demografi hanya bisa dipetik jika sumber daya manusia kita berkualitas. Karena itu, menjadi tugas kita untuk bersama-sama meningkatkan kualitas pendidikan di Jawa Barat. Kualitas remaja-remaja Jawa Barat harus terus kita tingkatkan,” tandas Kusmana.

BACA JUGA:  Dewan Segera Selidiki Intimidasi Kades di KBB, Pelaku Klaim Timses Bupati

Sementara itu, Rektor Unpad Rina Indiastuti menegaskan pentingnya mitigasi kependudukan untuk memaksimalkan potensi bonus demografi Jawa Barat. Mitigasi menjadi sangat penting di tengah situasi pandemi maupun pascapandemi. Perempuan dan remaja perempuan Jawa Barat perlu untuk mendapat pemahaman memadai tentang mitigasi risiko risiko pascapandemi covid-19. “Apa yang kita bicarakan sangat penting dan terkait langsung dengan pandemi Covid-19. Covid-19 membawa kita pada tatanan baru, karena itu perubahan sudah seyogyanya dilakukan. Covid-19 melahirkan krisis kesehatan. Tentu berdampak pada kehidupan sosial-ekonomi. Mari kita lihat, hari-hari ini yang mereka alami. Remaja tidak boleh ke kampus, tidak sekolah, diam di rumah, dan seterusnya,” kata Rina.

Dengan masih terus bertambahnya kasus Covid-19, Rina mengingatkan bahwa adaptasi terhadap pandemi masih panjang. Dampaknya bukan hanya pada kesehatan, melainkan pada sosial-ekonomi remaja dan keluarga. Di masa pandemi ini, sambung Rina, mencari cari kerja menjadi lebih susah, mobilitas menjadi sangat terbatas, kehidupan ekonomi sudah pasti terganggu. Kalau sudah begitu, ada dimensi baru dalam mencegah pernikahan muda.

Meski begitu, Rina mengajak remaja untuk terus membangun optimisme. Terus menempa diri dengan pengetahuan dan terus melakukan terobosan atau inovasi. Remaja perlu diyakinkan bahwa mereka memiliki masa depan lebih baik. Untuk mencapainya, orang tua dan pihak-pihak terkait perlu memborbardir dengan pengetahun dan semangat Juga mendorong untuk terus berkolaborasi.

Tidak bisa menolak bahwa kaum wanita banyak yang goyang

“Yang ingin saya soroti, pemerintah udah berbuat banyak hal. Namun, kita tidak bisa menolak bahwa kaum wanita banyak yang goyang. Goyang karena ibu-ibu di Jabar banyak menjadi pekerja informal. Pendapatannya berkurang selama pandemi. Ini berakibat pada kesehatan mental hingga reproduksi, maka problem makin kompleks. Bukan hanya remaja, tapi juga ibu muda. Sebagian mereka dihantui kecemasan,” papar Rina.

BACA JUGA:  Harga Kebutuhan Pokok Stabil Tapi Penjualan Menurun karena Dampak PPKM

Penelitian yang dilakukan Unpad menunjukkan sebagian besar keluarga mengalami gangguan. Remaja dan kaum ibu tergangu karena kecemasan yang muncul selama pandemi. Karena itu, sebaiknya kehamilan ditunda hingga pandemi benar-benar berakhir. “Kecemasan dan ketakutan berisiko pada bayi. Dia akan wewarisi stres ibunya. Bayi yang lahir menjadi bayi yang stres. Penting untuk kita sikapi dengan tepat,” tambah Rina.

Di bagian lain, Ketua Dewan Profesor Unpad Sutyastie Soemitro Remi mengungkapkan kependudukan, kesehatan, dan ketahanan keluarga menjadi bagian penting dari strategi optimasi bonus demografi. Hal itu dilakukan dengan perluasan dan peningkatan kualitas peserta keluarga berencana (KB), peningkatan pelayanan puskesmas, peningkatan peran lembaga terkait, dan menjaga kesehatan ibu dan anak sejak dalam kandungan.

“Agar bonus demografi optimal perlu sinkronisasi dan sinergi kelembagaan yang terkait dan pemangku kepentingan. Bonus demografi merupakan kesempatan dan tantangan yang perlu dikelola dengan baik agar tidak jadi musibah. Dan, perlu strategi optimasi spesifik mengingat kondisi keunikan SDM antardaerah,” papar Sutyastie.(rls/adv/sep)