Hujan Jadi Kendala Perajin Kerupuk Gurilem

SUSAH KERING:Pengrajin memilah Kerupuk mentah yang masih basah untuk di jemur.

CIHAMPELAS – Musim hujan menjadi kendala bagi pengrajin kerupuk dalam proses produksi kerupuk cacing atau gurilem. Pasalnya, kerupuk harus dijemur panas terik matahari pada siang hari, sehingga pembuatan cemilan khas Sunda itu jadi membutuhkan waktu yang lebih lama karena sinar matahari yang minim membuat adonan gurilem susah mengering.

Seorang pengusaha gurilem, Acep (23) mengatakan, pada musim kemarau adonam gurilem dapat dikeringkan dalam waktu satu hari, sementara pada musim hujan adonan jarang bisa mengering dalam satu hari. Minimal, kata dia, diperlukan waktu dua hari buat pengeringan agar adonan dapat mengembang dengan baik.”Yang jadi kendala dalam pembuatan gurilem biasanya cuaca. Kalau cuacanya mendung, kan enggak bisa buat menjemur adonan. Sekarang ini biasanya adonan baru bisa digunakan setelah dijemur lebih dari dua hari,” kata Acep di pabrik gurilem miliknya, di Kampung Cihamirung, RT 3 RW 12, Desa Mekarjaya, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, kemarin.

Dengan kondisi demikian, lanjut dia, maka produksi gurilem pun ikut terpengaruh. Acep tak menyebutkan berapa banyak penurunan produksi gurilemnya, namun dia memastikan produksinya ada pengurangan. Kendati demikian, penurunan produksi gurilem itu tidak terlalu berpengaruh pada sisi penjualan.”Kalau penurunan produksi, ya jelas, karena cahaya matahari kalau musim hujan kan enggak lama. Kalau sekarang, kami sehari bisa bikin gurilem dari bahan sebanyak 50 kilogram. Kalau yang dijual, sebenarnya enggak tentu, karena kami biasa membuat gurilem berdasarkan pesanan,” ujarnya.

Menggeluti bisnis gurilem bersama keluarganha sejak tiga tahun lalu, Acep mengaku biasa menjual gurilem sebanyak satu kuintal per minggu. Untuk satu bal gurilem seberat dua kilogram, dia mengaku menjualnya sehaga Rp 60 ribu.”Buat bahan 25 kilogram, modalnya itu Rp 450 ribu. Dari bahan itu, jadi gurilem 26 kilogram,” katanya, tanpa menyebutkan omzet secara detail.

Di kampungnya, dia mengaku tak ada lagi warga yang memproduksi gurilem. Acep pun membuat pabrik gurilem di Cihamirung, setelah pindah dari daerah Cililin -yang dikenal sebagai daerah penghasil gurilem.”Yang membedakan gurilem di sini, ialah ukurannya yang lebih besar,” ujarnya.

Pembuat gurilem asal Cililin, Yayat (49) mengaku bahwa produksi gurilem mengalami penurunan sekitar setengah dari jumlah produksi yang biasa. Dari produksi rata-rata 12 kuintal, kata dia, gurilem yang dibuat saat musim hujan ialah sekitar enam kuintal. Pasalnya, adonan gurilem yang terbuat dari tepung singkong susah mengering. “Kalau musim kemarau bisa jemur adonan dua kuintal sehari, sekarang jadi harus dua hari. Kalau dua hari adonan yanh dijemur enggak mengering, bisa-bisa adonannya berjamur. Makanya, kami mengurangi produksinya, biar enggak rugi” katanya. (eko/sep)