Ruwatan Lembur Gunung Putri Tolak Bala, Lestarikan Adat Istiadat Leluhur

Gunung Putri
RUWATAN: Masyarakat Gunung Geulis Blok Gunung Putri saat menggelar tradisi tahunan ruwatan lembur.

Kambing berbulu hitam disembelih saat ruwatan lembur Gunung Geulis Blok Gunung Putri di kawasan Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bandung Utara Desa Jayagiri Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat.

Setelah kambing disembelih, kepalanya dikubur, dagingnya dikuliti lalu dimasak dan dibagikan kepada warga. Ritual penyembelihan kambing ini dilakukan setelah sebuah kejadian bencana pernah nyaris merenggut warga sekitar tahun 1970-an.

Ruwatan lembur Gunung Geulis menjadi tradisi tahunan warga Kampung Gunung Putri yang diadakan setiap tanggal 8 Muharram yang bertujuan tolak bala dan keselamatan warga sekitar.

Baca Juga: Bupati Hadiri Ruwatan Bumi di Desa Margasari

Tokoh masyarakat, Eman (80) mengatakan pada sekitar 50 tahun yang lalu, di puncak Gunung Geulis pernah mengalami kejadian tanah terbelah sepanjang 50 meter yang mengancam jiwa di dua kampung. “Sebelum longsor lebih parah, sesepuh kampung mengubur kepala kambing di lokasi tanah terbelah. Setelah itu, tanahnya lalu menyatu lagi. Pada waktu itu saya menyaksikan langsung kejadian itu,” kata Eman, Kamis (27/8).

Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), Adi Sutriadi mengungkapkan, penyembelihan kambing di puncak Gunung Geulis merupakan tradisi turun temurun yang setiap tahun diadakan warga. “Tujuan utamanya melestarikan adat istiadat leluhur, lalu mempererat tali silaturahmi warga.

Biasanya dihadiri warga dari tiga RW tetapi sekarang hanya perwakilannya saja untuk menjaga protokol kesehatan, meski begitu kegiatan kali ini tak mengurangi sakral dan kebudayaannya itu sendiri,” ungkapnya.

Masih ada sangkut paut dengan Gunung Tangkuban Parahu

Adi menerangkan, tradisi ritual di Gunung Geulis masih ada sangkut paut dengan Gunung Tangkuban Parahu. Konon, Dayang Sumbi pernah melarikan diri dari kejaran Sangkuriang dan bersembunyi di Gunung Geulis.

Selain itu menurut cerita sesepuh kampung, lanjut Adi, pada jaman dahulu pernah ada kejadian tanah merekah. Setelah melaksanakan sejumlah ritual, salah satunya menyembelih kambing, tiba-tiba tanahnya menyatu kembali.

“Itu budaya orang tua kami, ini semacam memberi persembahan kepada kepada leluhur. Kami sebagai generasi muda coba untuk mempertahankan budaya itu,” bebernya.

Asisten Perhutani (Asper) Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Bandung Utara, Susanto menerangkan, ruwatan lembur Gunung Geulis diadakan di kawasan wisata Geger Bintang yang berada di bawah pengelolaan Perhutani.

“Tradisi warga diadakan jauh sebelum objek wisata dibuka tahun 2017. Kita sifatnya hanya mendukung karena tradisi warga ini sudah dilakukan sejak lama, istilahnya kita sebagai pengelola, izin pamit dulu kepada warga,” kata Susanto.

Dia menjelaskan, kondisi Gunung Geulis sekarang dipastikan sudah aman tetapi bekas rekahan tanah hingga saat ini masih ada. Sehingga untuk mencegah terulangnya kejadian, warga masih rutin mengadakan tradisi ini.

“Intinya berdoa demi keselamatan semuanya, maka untuk menghindari kejadian itu, warga mengadakan ritual karena dampaknya bisa bahayakan warga Kampung Cibedug,” tambahnya.(*)