Semua Kecamatan Berpotensi Terjadi Pergerakan Tanah

POTENSI BENCANA: Petugas dan relawan mengevakuasi warga yang rumahnya terkena longsor di wilayah KBB, beberapa waktu lalu. Berdasarkan data PVMBG, semua wilayah KBB berpotensi tinggi terhadap bencana. EKO SETIYONO/PASUNDAN EKSPRES

Ancaman Pergerakan Tanah hingga Banjir Bandang

BANDUNG-Menjelang datang musim penghujan, Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan data daerah-daerah yang berpotensi terjadi pergerakan tanah di Provinsi Jabar.

Khusus di Kabupaten Bandung Barat, PVMBG mencatat semua kecamatan di daerah ini berpotensi mengalami pergerakan tanah menengah hingga tinggi. Tiga kecamatan di antaranya Cisarua, Parongpong dan Lembang, patut diwaspadai karena selain pergerakan tanah, juga berpotensi mengalami banjir bandang.

Dalam keterangannya, PVMBG menyebut, daerah yang mempunyai potensi gerakan tanah menengah adalah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah, sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

Sedangkan daerah yang mempunyai potensi tinggi, disebutkan pergerakan tanah bisa terjadi jika curah hujan di atas normal. Sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bandung Barat, Duddy Prabowo mengakui, salah satu dari tujuh potensi bencana di Bandung Barat adalah ancaman pergerakan tanah atau longsor.

“Jadi, sesuai dengan indeks risiko bencana yang dikeluarkan BNPB, Bandung Barat, termasuk kategori risiko bencana yang tinggi. Mulai dari longsor, pergerakan tanah, kekeringan, gunung merapi, gempa bumi sampai dengan kebakaran lahan,” ungkap Duddy, Minggu (14/10).

Untuk menghadapi berbagai ancaman bencana, terang Duddy, pihaknya telah membentuk desa tanggung bencana di dua desa. Diharapkan, 165 desa di Bandung Barat bisa dibentuk desa tangguh bencana supaya secara kelembagaan bisa siap atau lebih prepare ketika menghadapi bencana.

Disamping itu, BPBD Bandung Barat akan masuk ke tiap sekolah untuk mensosialisasikan sekolah siap bencana yang menyasar tenaga pendidik serta siswa.

“Tahun ini, rencananya kita masuk ke sekolah untuk sosialisasikan daerah rawan bencana di wilayahnya, “tuturnya.
BPBD juga meminta masyarakat untuk terlibat dalam pencegahan bencana, khususnya saat memasuki musim penghujan. “Memang tidak semuanya bisa dilakukan pemda, harus ada kerjasama atau koordinasi antara pemerintah, masyarakat serta dunia usaha untuk mensosialisasikan potensi bencana, termasuk sesar Lembang, “jelasnya.

Sementara itu Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandung, Tony Agus Wijaya memperkirakan, awal musim hujan di wilayah Jabar akan terjadi pada akhir bulan Oktober ini. Meski di sebagian wilayah sudah turun hujan, menurut dia, saat ini Jabar masih berada pada masa peralihan atau pancaroba.

“Akhir bulan Oktober baru masuk awal musim hujan. Kami ingatkan masyarakat agar dari sekarang menjaga saluran drainase agar air hujan tidak tersumbat, serta potong cabang pohon yang lapuk untuk menghidari kejadian pohon tumbang, “ucap Tony.(eko/din)