Reses Ketiga, Sri Temui Emak-Emak

SERAP ASPIRASI: Wakil Ketua DPRD Karawang, Sri Rahayu Agustina saat menggelar acara reses ketiga bersama ibu-ibu Majlis Taklim di Kelurahan Karangpawitan. DEDY SATRIA/PASUNDAN EKSPRES

KARAWANG-Wakil Ketua DPRD Karawang, Sri Rahayu Agustina menggelar acara reses ketiga bersama ibu-ibu Majlis Taklim di Kelurahan Karangpawitan, Selasa (4/12). Sebanyak 50 kaum ibu-ibu atau yang saat ini akrab disebut emak-emak, tampak memenuhi lokasi acara secara santai. Dalam dialognya, Sri Rahayu menyampaikan terlebih dahulu tugas dan tanggung jawab seorang anggota DPRD Kabupaten Karawang.

“Saya ini sudah satu periode di DPRD Kabupaten Karawang. Sebagai wakil rakyat, satu tahun diberikan waktu 3 kali untuk bertemu masyarakat. Hari ini (kemarin) merupakan masa reses ke-3. Tetapi ternyata itu belum cukup,” ujar Sri Rahayu, Selasa (4/12).

Maka atas dasar tersebut, pada kesempatan yang baik ini, Sri Rahayu mengajak kaum perempuan menggelar forum silahturahmi sambil menyerap aspirasi dan makan bersama para emak-emak. Dalam kesempatan itu, Sri menegaskan, pemerintah daerah akan segera memberikan dana pinjaman lunak, untuk mengurangi dampak bank emok yang menggurita hingga pelosok desa.

”Pemerintah daerah dalam hal ini memberikan kemudahan untuk mendapatkan dana pinjaman dengan bunga lebih kecil dari bank emok, dari program kredit lunak” katanya.

Kata Sri Rahayu, banyak warga yang butuh uang dan merasa perlu pinjam uang. Tetapi belum punya sumber pengembalian yang jelas. Melek keuangan menjadi syarat penting. Artinya kalau tidak bisa mengembalikan uang jangan pernah pinjam uang.

“Masalah lain adalah banyak ibu-ibu meminjam uang walau sebetulnya tidak butuh. Di beberapa daerah, para ibu meminjam uang untuk dibelikan perhiasan, pakaian, hingga telpon genggam,” katanya.

Budaya konsumtif di pedesaan juga cenderung tinggi. Tingkat penghargaan seseorang terhadap materi pun cukup kental. Kadang, kalau jalan beriringan, penampilannya luar biasa. Masih sedikit model pembelajaran untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat terhadap keuangan. Bisa dikatakan, sebagian masyarakat belum melek keuangan, apalagi melakukan perencanaan keuangan,sehingga banyak emak-emak menjadi korban bank emok.(ddy/din)