Meninjau Ulang Tujuan Program Digitalisasi Pesantren

Oleh: N. Vera Khairunnisa

Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil meminta pesantren di wilayah Jabar untuk memanfaatkan teknologi alias go digital di sektor pertanian sebagai salah satu sektor yang tidak terdampak pandemi global COVID-19.

Ia juga mengatakan pada dasarnya pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga menjadi pusat perubahan dalam berbagai bidang termasuk teknologi.

Semua itu ia sampaikan saat menjadi narasumber pada “Webinar Eco Pesantren Citanduy Ngaruy dalam rangka Tasyakur Milad Pondok Pesantren Suryalaya ke-115” di Gedung Negara Pakuan, Kota Bandung, Jumat (jabarnews. com, 4/9/2020).

Jika dicermati dengan seksama, digitalisasi pesantren yang kental kaitannya dengan memandirikan ekonomi ini cukup berbahaya bagi keberadaan pesantren yang kental dengan keislaman. Hal ini dikarenakan adanya pengalihan peran dan fungsi pesantren sebagai pencetak ulama dan santri, diarahkan pada ekonomi. Inilah yang terjadi ketika negara diatur oleh sistem kapitalisme.

Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Wamendes PDTT) Budi Arie Setiadi ketika menyambangi Pondok Pesantren
Raudhatul Ulum, pada Kamis (18/6/2020) menjelaskan, interkoneksi digital adalah keniscayaan. Internet bukan hanya untuk berkomunikasi dengan keluarga dan teman kerja.

Lebih dari itu, jaringan digital tersebut bisa dimanfaatkan untuk menunjang kreativitas dan produktivitas masyarakat, termasuk para santri di perdesaan. (tribunnews. com, 18/06/20)

Dalam Islam pemerintah bertindak sebagai ra’in. Ia bertanggung jawab atas berlangsungnya pendidikan, termasuk pesantren. Benar bahwa adanya internet dan teknologi merupakan sebuah keniscayaan. Hanya saja semestinya, penguasaan dan pemanfaatan teknologi oleh pesantren diarahkan untuk mempermudah dakwah Islam, bukan untuk menjadi penggerak ekonomi.

Digitalisasi pesantren dalam Islam akan dimanfaatkan untuk mencetak para ulama dan santri yang cerdas dan berkepribadian Islam yang kuat. Kecanggihan teknologi juga diperlukan untuk memudahkan dakwah Islam yang dilakukan oleh ulama maupun para santrinya.

Kreativitas dan produktivitas pun akan diarahkan dalam rangka menyelesaikan berbagai problem kehidupan. Sehingga dengan kemajuan teknologi akan semakin mudah dalam mencetak generasi yang mampu menjadi problem solver yang sesuai dengan aturan Islam.

Oleh karena itu, maka tujuan dibuatnya program digitalisasi pesantren layak untuk ditinjau ulang. Bukan untuk mendongkrak ekonomi, namun untuk mendongkrak ulama dan santri yang faqih fiddin yang akan membawa pada kebangkitan Islam.

Wallahua’lam