Al-Muhajirin Purwakarta Jadi Tuan Rumah Program One Pesantren One Product

SIMBOLIS: Kepala Bidang Pemberdayaan Koperasi pada Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Jawa Barat Iya Sugia saat mengalungkan kartu peserta pelatihan dan magang program OPOP. ADAM SUMARTO/PASUNDAN EKSPRES

Al-Muhajirin Tuan Rumah Pelatihan OPOP Jabar

PURWAKARTA-Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta menjadi tuan rumah pelatihan dan magang program One Pesantren One Product (OPOP). Terpilihnya Al-Muhajirin beserta enam pesantren lainnya di Jawa Barat sebagai penyelenggara pelatihan dan magang OPOP, karena pada tahun sebelumnya Al-Muhajirin menjadi juara OPOP tingkat Jawa Barat.

Tercatat ada 50 peserta dari 50 pesantren yang ikut magang di pondok pesantren pimpinan DR KH Abun Bunyamin MA ini. Pada tahun ini ada 500 pesantren yang lolos audisi pertama, sehingga bisa melanjutkan ke tahap pelatihan dan magang.

Kepala Bidang Pemberdayaan Koperasi pada Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Jawa Barat Iya Sugia mengatakan, melalui OPOP diharapkan setiap pesantren memiliki satu produk unggulan sesuai dengan potensi di daerahnya masing-masing.

“Kalau desanya maju maka negaranya pun maju. Memajukan desa ini salah satu penggeraknya adalah pesantren. Pasalnya, pesantren memiliki potensi besar dan mudah mengarahkannya. Yaitu, ketika Kiai menginstruksikan suatu hal, otomatis para santrinya manut. Ini lah salah satu potensi besar itu,” kata Iya usai membuka Pelatihan dan Magang Program OPOP di Al-Muhajirin Kampus 2, Senin (21/9).

Dirinya pun menyebutkan ada enam tantangan yang harus dihadapi dalam mengembangkan kewirausahaan. “Keenamnya adalah masih lemahnya permodalan, lemahnya pemasara, sulitnya mendapatkan tempat usaha, sulitnya sarana produksi, sulitnya bahan baku, dan masih lemahnya SDM,” ujarnya.

Keenam permasalahan tersebut, sambung Iya, bisa diatasi dengan adanya dukungan pemerintah setempat melalui berbagai regulasinya. “Termasuk melalui program OPOP ini diharapkan mampu memotivasi dan memicu pesantren untuk memaksimalkan potensinya sehingga dapat menghasilkan suatu produk,” kata Iya.

Pesantren juga, lanjut Iya, harus dapat memaksimalkan koperasinya. “Kopontren ini memiliki potensi besar untuk berkembang. Sesuai prinsip koperasi, tak hanya menyejahterakan anggotanya, tapi juga masyarakat pada umumnya,” ucap Iya.
Ditemui di tempat yang sama, Ketua Panitia Pelatihan dan Magang Program OPOP Deden Miftahul Falah menyebutkan, seluruh rangkaian kegiatan pelatihan dan magang tetap memperhatikan protokol kesehatan.

“Para peserta akan mendapatkan berbagai materi pelatihan dan magang, mulai hari ini hingga Kamis (24/9). Kami akan berbagi pengalaman dalam mengembangkan usaha sesuai yang kami jalankan pada program OPOP tahun lalu,” kata Deden.

Adapun Al-Muhajirin menjadi juara OPOP dalam bidang pelayanan jasa setelah mengajukan usaha percetakan yang telah dijalaninya. “Alhamdulillah, sebelum OPOP, omzet percetakan kami Rp10 juta – Rp20 juta per bulan. Ketika sudah juara dan memiliki mesin omzetnya di atas Rp100 juta per bulan,” ucapnya.(add/ysp)