Hujan Minim, Petani Terancam Gagal Tanam

KURANG AIR: Petani sedang menyedot aliran sungai cikadu, untuk mengairi sawahnya yang kesulitan air. Kondisi itu akan berdampak pada gagalnya tanam padi. DAYAT ISKANDAR/PASUNDAN EKSPRES

PURWAKARTA-Sejumlah area pertanian di Kabupaten Purwakarta mengalami kesulitan air. Padahal pada Desember lalu, Dinas Pertanian telah mencanangkan gerakan tanam serempak

Seperti halnya yang dialami oleh petani di wilayah utara Purwakarta yang meliputi Kecamatan Campaka, Bungursari dan sebagian Kecamtan Cibatu. Minimnya intensitas hujan sejak pertengahan Desember hingga Januari ini, kondisi pertanian kesulitan air, petani pun mengandalkan mesin pompa untuk mengairi sawahnya.

Ancaman gagal tanam setidaknya dialami Asep petani asal Desa Cibodas Kecamatan Bungursari yang kini menggarap areal sawah di blok Cikadu Desa Cijunti,Kecamatan Campaka. Kondisi persemaian benih nya kekurangan air, padahal umur benih sudah bisa ditanam, Asep akhirnya mengurungkan tanam padinya.

Bukan hanya area persemaian saja, petak sawah yang siap ditanami, kondisinya mengering dan retak-retak akibat cuaca panas,”sudah sebulan ini, persemaian benih padi yang disebar tak diguyur hujan,bahkan kini areal sawah kami yang sebelumnya sudah ditraktor,alami retak retak,” terang Asep.

Untuk mengantisipasi kondisi itu, pengairan sawah telah diupayakan dengan cara menyedot air Sungai Cikadu dengan mesin pompa, namun kondisi Sungaijuga alami krisis air.

“Hari ini, saya dan sejumlah petani di blok Cikadu, berusaha memompa air sungai dengan alqon, tapi air sungainya tidak maksimal,akibat debetnya rendah,” keluh Asep lebih lanjut.

Asep juga menyebut, sebenarnya ada pompa air tanah di blok sawah itu, bantuan dinas terkait. Namun sejauh ini tak bisa difungsikan,karena alat utama pompa air (Jet Pump) yang terpasang disana, sudah lama raib.

“Kalau sampai akhir Januari ini, hujan tak kunjung stabil,maka bisa dipastikan petani di utara Purwakarta akan alami gagal tanam. Padahal kalau merunut iklim normal Desember-Januari biasanya intensitas hujan tinggi,” tutur Asep.

Terkait dengan menurunnya debet air Sungai Cikadu, yang menjadi sumber air bagi areal pesawahan disana,lebih disebabkan minimnya aliran air dibagian hulu. Selain curah hujan yang minim, pembabatan areal hutan jati di Blok Cilodong Kecamatan Bungursari, yang sebagian areanya disulap menjadi kawasan industri. Hal itu menjadi titik awal buramnya harapan petani disana.

“Dulu mah, saat hutan jati belum dibabat di sekitar Cilodong, yang menjadi bagian hulu berbagai aliran sungai, dan belum bermunculan kawasan industeri, pasokan air sungai disini stabil,” kata Asep.

Sementara itu, sejumlah sumber di Dinas Pertanian Pemkab Purwakarta, yang tak mau disebut, menyatakan kawasan utara Purwakarta itu, kini sudah bukan lagi merupakan zona pertanian, melainkan zona Industeri dan kawasan perumahan. Sehingga aliran irigasi yang mengarah ke utara Purwakarta sudah 10 tahun ini tak difungsikan.

“Kalau irigasi teknis, kearah utara difungsikan, maka kawasan Industri yang kini ada akan terendam,” sebutnya.

Dan saat ini, menurutnya pertanian di Purwakarta tengah fokus di wilayah selatan, seperti Kecamatan Darangdan, Plered, Plered, Bojong, Wanayasa dan Kiara Pedes serta wilayah lainnya.(dyt/dan)