Mengenal Sakit Kepala Lebih Dekat

Dr Samuelson Lingga

PURWAKARTA-Sakit kepala adalah suatu hal yang pasti pernah dialami setiap orang, baik orang dewasa maupun anak-anak sekalipun. Sakit kepala juga merupakan salah satu keluhan terbanyak yang menyebabkan pasien datang untuk berobat .
“Sakit kepala ini begitu bervariasi mulai dari jenis nyeri, lokasi, intensitas nyeri, dan juga durasi. Jenis nyerinya bisa berdenyut dan juga seperti dicengkeram atau dililit tali kencang. Nyeri bisa muncul di salah satu sisi kepala (migraine), atau di seluruh bagian kepala termasuk daerah mata dan wajah. Intensitasnya bisa ringan dan berat. Durasi bisa beberapa jam hingga berhari-hari,” kata Dr Samuelson Lingga kepada Pasundan Ekspres, saat ditemui di Purwakarta, Senin (1/7).

Dirinya mengatakan, penyebab sakit kepala dibagi menjadi dua tipe yaitu primer dan sekunder. Primer tanpa penyakit pendahulu, biasanya disebabkan gaya hidup seperti kurang istirahat atau perubahan waktu tidur, alkohol, makanan tertentu, melewatkan makan, stress berat, dan lain sebagainya.

Ada pun sekunder, sambungnya, yang lebih umum seperti demam disertai batuk flu, masalah gigi tertentu, infeksi telinga, riwayat darah tinggi, dan yang khusus seperti trauma kepala, infeksi otak, tumor otak, stroke, dan lain sebagainya.

“Sebelum menggunakan obat-obatan, kita harus memperbaiki gaya hidup terlebih dahulu. Dan ini juga bisa terbantu dengan melakukan beberapa tips seperti istirahat di ruangan gelap, relaksasi dari stres, kompres daerah tengkuk atau pijat ringan untuk melancarkan peredaran darah ke kepala, peregangan atau olahraga yang kontinyu, dan banyak minum air,” ujarnya.

Samuelson yang meraih gelar dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Methodist Medan ini menyebutkan, pada dasarnya obat sakit kepala yang dibutuhkan tergantung pada banyak hal. Di antaranya, jenis sakit di kepala yang dialami, seberapa sering mengalaminya, dan apa penyebabnya. “Dalam banyak kasus, kondisi ini tidak membutuhkan bantuan medis sama sekali,” kata dia.

Meski begitu, beberapa orang lainnya mungkin membutuhkan obat sakit kepala, konseling, atau pun terapi terapi untuk meredakan gejala. “Jika rasa sakit yang dialami tergolong ringan, Anda dapat mengonsumsi obat sakit kepala atau pereda nyeri yang dapat dibeli di apotek tanpa resep dokter,” ucapnya.

Obat sakit kepala ini, kata Samuelson, termasuk obat nonsteroidal anti-inflammatory (NSAID) dan paracetamol. Sementara untuk sakit yang lebih berat, membutuhkan obat sakit kepala dosis tinggi yang harus menggunakan resep dokter.
Dijelaskannya, beberapa gejala sakit kepala serius yang harus segera dikonsultasikan ke dokter adalah gejala yang sudah tidak mempan diobati, dan banyak penyertanya. Yaitu disertai sulit bicara dan mati rasa, demam dan leher kaku, gangguan penglihatan, mual, muntah, dan peka terhadap cahaya atau suara.

“Bisa juga rasa pusing yang muncul setelah melakukan aktivitas tertentu, muncul secara tiba-tiba dan terasa sangat menyakitkan, gejala tambah parah kalau berganti posisi. Memang tidak nyaman saat gejala ini menyerang, mulai dari sedikit mengganggu hingga sangat mengganggu sampai dapat menurunkan efektivitas kegiatan,” kata dia.

Tapi, sambungnya, sebisa mungkin usahakan tetap rileks dan tenang, karena faktor psikis malah bisa memperberat. “Yang penting kita kenali penyebabnya dan mencoba memperbaikinya serta tahu kapan kita harus datang dan mengkonsultasikannya ke dokter,” ucapnya.(opl/add/vry)