PJT II Optimalkan Kawasan Istora, UMKM dan Pantai Timur

KOPDAR: Kawasan Jatiluhur dipilih sebagai lokasi Kopdar Pemprov Jabar karena komitmen Jasa Tirta II dalam menata kawasan Jatiluhur dan keberhasilan membersihkan badan Sungai Citarum.

Waduk Jatiluhur Dipilih Jadi Tempat Kopdar 26 Kabupaten Kota se-Jawa Barat

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) menugasi Jasa Tirta II untuk menyediakan lokasi kegiatan Komunikasi Pembangunan Daerah (Kopdar) dalam rangka koordinasi pembangunan di Provinsi Jawa Barat, di Kawasan Waduk Jatiluhur, Kamis (13/2).

Hadir dalam kegiatan tersebut Gubernur Jawa Barat M Ridwan Kamil bersama Bupati dan Walikota, Wakil Bupati dan Wakil Wali Kota, serta Ketua dan Wakil Ketua TP PKK se-Jawa Barat.

Jasa Tirta II juga secara aktif diminta untuk berpartisipasi menyukseskan kegiatan tersebut. Dipilihnya waduk bernama resmi Ir H Djuanda Jatiluhur ini dikarenakan keberhasilan Jasa Tirta II selaku BUMN pengelola SDA yang telah membersihkan badan air Sungai Citarum dengan program padat karya bersama masyarakat.

Waduk yang berusia 52 tahun telah berubah dari yang awalnya dipenuhi gulma menjadi perairan eksotis dan penuh manfaat. Sehingga, senantiasa terjaga fungsi-fungsi teknis waduk untuk ketahanan air nasional.

“Menjadi kehormatan dan kebanggaan bagi Jasa Tirta II, Waduk Jatiluhur dipilih sebagai lokasi acara Komunikasi Pembangunan Daerah (Kopdar) Gubernur Jawa Barat bersama Bupati/Walikota se-Jawa Barat,” ucap Direktur Utama Jasa Tirta II U Saefudin Noer.

Dipilihnya kawasan Waduk Jatiluhur sangat tepat. “Kami sudah bekerja keras menata dan menjaga kebersihan Waduk Jatiluhur agar dapat dinikmati keindahan alamnya,” kata Saefudin Noer.

Kegiatan ini dihadiri oleh 24 Bupati dan Wali Kota, 13 Wakil Bupati dan Wakil Wali Kota bersama istri beserta rombongan. Total peserta Kopdar Pemprov Jabar ini diperkirakan 300 orang mengunjungi kawasan Waduk Jatiluhur dan menginap di Hotel Pesanggrahan Jatiluhur.

Adapun hotel ini memadukan kenyamanan dari elemen modern dan tradisional dari Purwakarta dengan dihiasi bambu menjadi ciri khas hotel.

Posisi hotel berada di lokasi yang sangat strategis dengan Waduk Jatiluhur sebagai ikon pariwisata Purwakarta. Di sini, para tetamu bisa berjalan kaki sambil berolahraga di sekitar waduk dan hanya berjarak sembilan kilometer dari Kota Purwakarta.

Sejalan dengan program pembangunan di Jawa Barat, kata Saefudin Noer, Jasa Tirta II juga tengah bekerja keras untuk menata pembangunan di kawasan Waduk Jatiluhur.

Pada 2019, Pemprov Jabar mencanangkan perubahan kawasan Waduk Jatiluhur. Salah satu yang akan disentuh dalam penataan kawasan ini adalah area bisnis dan optimalisasi aset. “Saya mengusulkan ke Gubenur Jabar untuk bersama-sama menata Kawasan Waduk Jatiluhur meliputi Kawasan Istora dan Pantai Timur Waduk Jatiluhur serta kawasan UMKM di sekitar waduk,” ujarnya.

Pada Tahun 2019, waduk ini menjadi salah satu objek penting dan berhasil menjadi sejarah event-event bertaraf internasional yang diselenggarakan Jasa Tirta II. “Di antaranya seperti The 1st Jatiluhur Stand Up Paddle & Kayak Exhibition, The 1st Jatiluhur 5k Fun Run & Walk, dan The 1st International Jatiluhur Jazz Festival,” kata U. Saefudin Noer.

Sejak awal berdiri, Jasa Tirta II diberi tugas strategis untuk menyokong ketahanan pangan di Jawa Barat bagian Utara. Di mana 90 persen air Waduk Ir H Djuanda digunakan untuk mengairi kawasan pertanian di Jawa Barat. “Yakni seluas lebih dari 240.000 hektare yang merupakan salah satu lumbung padi nasional. Dengan hasil panen rata-rata 5,5 ton per hektare dalam dua musim tanam dengan asumsi rata-rata produksi padi 3,1 juta ton per tahun,” ujarnya.

Bila dimonetisasi, kata dia, sumbangsih Jasa Tirta II untuk ketahanan pangan mencapai triliunan rupiah per tahunnya.

Jasa Tirta II juga melaksanakan tugas strategis untuk memenuhi kebutuhan 80 persen air baku DKI Jakarta sebagai Ibu Kota Negara dan air baku untuk kawasan Bekasi, Karawang, Subang, dan Purwakarta tercukupi 100 persen.

Menyadari manfaatnya yang besar untuk negeri ini, Saefudin Noer melihat Jasa Tirta II perlu meningkatkan kinerja perusahaan dengan mencanangkan transformasi di berbagai aspek.

Transformasi dilakukan dengan melihat sumber daya perusahaan serta potensi pengelolaan waduk, bendungan dan waduk, bendungan dan saluran, sungai dan wilayah sungai. Dasar transformasi tak lepas dari triple bottom line dan bagaimana korporasi yang ideal berjalan dengan konsep people, planet dan profit.

“Fokus transformasi Jasa Tirta II mencakup people and corporate culture, proses bisnis, teknologi informasi dan komunikasi, area bisnis baru, dan optimalisasi aset,” kata Saefudin Noer.

Termasuk, kata dia, dukungan regulasi sehingga, sebagai BUMN, Jasa Tirta II dapat berkontribusi lebih banyak bagi ketahanan pangan dan energi nasional.

Menurutnya, potensi pengusahaan yang manageable, profesional, dan komersial, akan banyak menghasilkan tambahan pendapatan bagi perusahaan.

Dengan transformasi ini, Jasa Tirta II ingin menjaga konservasi lingkungan, memitigasi kekeringan, manajemen banjir, mengurangi potensi konflik SDA, serta energi baru dan terbarukan.

“Sehingga lebih baik, karena tidak hanya mementingkan air untuk PLTA yang bersifat komersial yang selama ini dikelola pihak lain saja, tapi jauh lebih penting lagi. Yaitu, untuk menyuplai air bagi kebutuhan pengairan dan pangan,” ucapnya.(add/vry)