Perajin Dompet Lokal Subang Kesulitan Memasarkan Produknya

BERKARYA: Jajang Arwan, pengrajin dompet asal Curugrendeng Subang. INDRAWAN/PASUNDAN EKSPRES

Produksi Ketika Ada Order

Keberadaan pengrajin dompet dan tas di Subang semakin mengkhawatirkan saja. Padahal, produknya mampu bersaing dengan tas atau dompet dari kota/kabupaten yang terkenal dengan kerajinan tas atau dompet seperti Garut. Pengrajin lokal berproduksi jika ada pesanan saja. Jika tidak, maka tidak ada produksi atau banting stir bekerja serabutan.
————————-
Di Desa Curugrendeng Kecamatan Jalancagak misalnya, disana banyak terdapat pengrajin tas dan dompet. Produk mereka tak kunjung dikenal oleh khalayak, sebab memproduksi dompet dan tas yang sudah dipesan oleh perusahaan besar dengan merek-merek ternama, asal luar kota.

Pasundan Ekspres menemui salah satu pengrajin dompet asal Desa Curugrendeng. Dia adalah Jajang Arwan, yang sejak tahun 1995 sudah menjadi pengrajin dompet. Ketika ditanya kenapa tidak memproduksi produk sendiri, dengan nama brand sendiri, Jajang hanya tersenyum. Lama-lama dia menjelaskan juga. Ternyata menurutnya, pemasaran dari karya kerajinannya sulit.
“Bukan tidak mampu saya bikin brand sendiri. Mampu saya. Bahkan lebih bagus dari dompet merk ternama juga saya mampu. Modal ada. Sederhananya modal mah gampang pinjam ke bank kalau gak punya juga. Masalahnya satu, pemasarannya,” jelas Jajang.

Dalam sebulan, Jajang memproduksi sekitar 200 pcs dompet, yang di pesan dari salah satu perusahaan dengan merk dompet yang cukup populer. Dari pesanan perusahaan itu, Jajang diupah hanya sekitar Rp 60 ribu per lusin. Sedangkan perusahaan dengan merk dompet terkenal tersebut bisa menjual Rp 80 ribu hingga Rp 100 per pcs.

“Bayangkan keuntungannya, dari saya mereka beli cuma 60 ribu per lusin. Dijual satuan sama mereka gila-gilaan kan. Jadi sebetulnya, kalau kita mampu pasarkan sendiri, keuntungannya bisa 100 kali lipat,” tambahnya.

Jajang tidak mau menyebutkan merk dompet apa yang sedang dia garap. Menurutnya, itu sudah komitmen. Bahan dompet yang biasa dia kerjakan, sangat beragam. Dari mulai kain, hingga kulit imitasi.

Jajang mengaku tidak mengerjakan bahan kulit, karena menurutnya harus ada mesin khusus, dan bahan baku yang mahal.

Salah satu masyarakat Subang, yang aktif sebagai pelaku bisnis online shop, Ahmad Lutfi menyayangkan jika potensi pengrajin dompet dan tas tidak dimanfaatkan, atau hanya sebatas menerima orderan dari perusahaan besar. Seharusnya, pemerintah bisa ikut andil mengambil peran pemasaran tersebut. Menurutnya, pemerintah punya akses lebih ketimbang para pengrajin tersebut.

“Pemda Subang seharusnya jeli menangkap potensi itu. Dimana para pengrajin dompet atau tas, yang mengaku kesulitan memasarkan produknya, sehingga mereka hanya produksi “by order”, dibantu dipasarkan sebagai produksi asli Subang kan bisa. Begitupun dengan Anggota DPRD yang Dapilnya bertepatan dengan tempat dimana para pengrajin berada. Jika betul-betul mengunjungi daerah konstituennya seharusnya bisa terakomodir,” pungkasnya.(idr/vry)