PSBB di Pamanukan Tidak Efektif, Aktivitas Warga Masih Tinggi

MACET: Warga tidak mematuhi aturan pemberlakuan PSBB dengan memadati jalanan di Perempatan Flyover Pamanukan saat sore hari jelang buka puasa. YOGI MIFTAHUL FAHMI PASUNDAN EKSPRES

SUBANG-Aktivitas dan mobilitas warga di Kecamatan Pamanukan masih terbilang tinggi. Bahkan di tengah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), sore hari jelang buka puasa, keramaian di Pamanukan masih terlihat.

Anggota DPRD Fraksi PAN Albert Anggara Putra menyesalkan kondisi tersebut. Meski memang kondisi tersebut bukan sepenuhnya kesalahan masyarakat ataupun petugas.
Menurutnya, usulan dari fraksi PAN untuk PSBB parsial tidak diindahkan. Pemberlakuan PSBB secara total di Kabupaten Subang masih belum tegas. “Hasilnya kita cek kelapangan seperti Pamanukan tidak terperhatikan, minim sekali petugas pengamanan dan pencegahan,” kata Albert.

Padahal kata Albert, anggaran PSBB total se-Kabupaten menelan biaya yang tak sedikit yakni Rp 3,4 M selama 14 hari. “Jika 14 hari gagal dari tanggal 6 sampe tanggal 19 Mei, tentunya akan diperpanjang lagi, nambah anggaran lagi, hari lebaran pun akan terasa kurang hangat apabila PSBB kabupaten Subang diperpanjang lagi,” ucapnya.
Jika PSBB secara parsial, anggaran bisa dialokasikan ke pos lain yang memberikan manfaat.

Albert juga menambahkan, Gubernur pun mengingatkan PSBB harus diikuti oleh tes masif. Namun ia belum mengetahui kapan pelaksanaan rapid tes Masif itu akan dilaksanakan. “Perangkat Daerah dan Perangkat Desa belum melaksanakan Rapid test semuanya, bahkan anggota DPRD, petugas medis pun belum semuanya.

Sementara masih diprioritaskan ODP, ODP pun tidak semuanya, hanya sebagian dan banyak lagi ODP yang tidak tercatat, atau melaporkan mereka habis dari zona merah. Sampai sekarang lonjakan ODP terus bertambah pesat, bahkan positif Covid-19 semakin meningkat,” tambahnya.

Sementara itu, salah satu warga Darsim yang ditemui di kawasan pertokoan Pamanukan mengatakan, kondisi sore hari di Pamanukan memang ramai. Ia melihat banyak faktor yang melatar belakanginya. “Ada yang memang cari takjil, ada yang berjualan, intinya bermacam-macam, yang perlu diingatkan yang tujuannya tidak jelas dan itu banyak,” imbuhnya.(ygi/sep)