Tidak Maksimal Lakukan Pembelajaran Daring, Pendidikan Karakter Sulit Diterapkan

Ketua Forum Kepala Sekolah Swasta (FKSS) Kabupaten Subang, Suhaerudin.

SUBANG-Wabah Pandemi Covid-19, sudah berlangsung kurang lebih tiga bulan di Indonesia. Situasi ini sangat mempengaruhi hampir seluruh bidang kehidupan termasuk bidang pendidikan di Kabupaten.

Ketua Forum Kepala Sekolah Swasta (FKSS) Kabupaten Subang, Suhaerudin mengatakan, pada awal pandemi kegiatan belajar di rumah dengan sistem daring disambut antusia. Karena inilah saatnya dunia pendidikan memanfaatkan kemajuan teknologi.

Dia menuturkan, sekolah swasta di Kabupaten Subang banyak yang terdampak wabah Covid-19. Bagi sekolah swasta yang mampu melaksanakan kegiatan pembelajaran daring dengan dukungan orang tua mungkin tidak terlalu bermasalah.
“Namun jumlahnya tidak banyak. Diperkirakan 75 persen sekolah swasta tidak bisa maksimal melaksanakan kegiatan pembelajaran jarak jauh secara maksimal,” katanya kepada Pasundan Ekspres, Rabu (3/6).

Dia mengatakan, kendalanya macam-macam. Ada yang karena keterbatasan orang tua siswa dalam menyediakan alat untuk belajar daring, walau pun banyak link dan web yang menyediakan gratis tetap saja mereka banyak yang kesulitan. Kemudian tingkat kejenuhan siswa dalam menerima tugas-tugas dari ibu bapak guru dari sekolah. Diperparah lagi dengan ketidakmampuan orang tua dalam membimbing para putra putrinya belajar.

“Seabreg masalah ini bisa menjadi kendala yang serius bagi keberhasilan program pengajaran Daring. Ahirnya Kemendikbud mengeluarkan surat no 4 tahun 2020. Intinya pembelajaran daring tidak menitikberatkan kepada keberhasilan secara akademik tetapi lebih menekankan kepada kesehatan dan keselamatan siswa,” jelasnya.

Dari sisi pembiayaan, kata dia, sesungguhnya sekolah sudah dibantu oleh dana BOS dari pemerintah. Juknis BOS terbaru boleh digunakan penunjang kegiatan belajar jarak jauh dengan cara quota guru-guru bisa disediakan dari dana BOS. Namun itu tidaklah cukup.

“Karena pemasukan dari orang tua yang sudah dianggarkan di RAKS (Rencana Anggaran Kegiatan Sekolah) untuk biaya guru staf TU dan karyawan selama pandemi Covid sangat minim pemasukan. Ditambah lagi dari pihak Yayasan tidak membantu dengan berbagai kondisi dan alasan. Karyawan sekolah swasta termasuk guru tidaklah sama dengan karyawan pabrik yang ketika tidak ada kegiatan maka PHK. Sementara orang tua siswa menganggap pembayaran sekolah diibaratkan dengan naik angkot, ketika tidak naik angkot tidak usah mengeluarkan ongkos,” jelasnya.

BACA JUGA:  Cegah Covid-19, Penyemprotan Disinfektan Terus Digencarkan

Dari sisi jumlah, dia mengatakan, sekolah swasta memiliki jumlah lebih banyak dari sekolah negeri. Kabupeten Subang SMPN ada 75 sekolah, SMP swasta ada 90 sekolah. SMA swsata 30 dan SMAN 19 sekolah. Begitu pun di SMK, dan TK.

“Mungkin pada tingkat sekolah SD didominasi oleh SD negeri. Kalau digabung jumlah sekolah swasta dengan sekolah yang ada di Kemenag hitungan bisa jauh lebih besar lagi. Karena sekolah swasta Kemenag hampir 90 persen statusnya sekolah swasta,” ujarnya.
Suhaerudin menjelaskan, ketidakmaksimalan pembelajaran daring pada masa covid ini juga yang lebih memprihatinkan adalah penerapan pendidikan karakter. Nyaris pembiasaan yang bermuara kepada pendidikan karakter tidak bisa dilaksanakan.

“Ini masalahnya jauh lebih kompleks. Tidak setiap orang Tua mampu mendampingi para putra-putrinya dengan pembiasaan pendidikan karakter yang biasa mereka dapatkan di sekolah,” jelasnya.

Dia mengatakan, semua erharap wabah Covid segera berlalu supaya sekolah bisa beraktifitas normal kembali. Namun demikian pembukaan sekolah juga harus memperhatikan dan situasi sudah benar-benar aman dari ancaman Covid.
“Kalau wabah Covid masih berlangsung tentu keselamatan anak-anak calon para pemimpin bangsa harus diutamakan,” pungkasnya.(ysp)