Uji Lab PDP Meninggal di RSUD Subang Belum Diketahui

KETERANGAN PERS: Plt Direktur RSUD Subang dr Ahmad Nasuhi menjelaskan meninggalnya PDP asal Haurgeulis Indramayu YUGO EROSPRI/PASUNDAN EKSPRES

SUBANG-Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang ada di RSUD Kelas B Subang yang awalnya mencapai 12 orang, kini berangsur berkurang hanya tinggal 1 orang. 11 Orang lainnya diperbolehkan pulang, namun tetap diawasi. Mengenai satu orang meninggal yang diduga akibat virus korona, Tim RSUD Kelas B Subang angkat bicara.

Plt Direktur RSUD Kelas B Subang dr. Ahmad Nasuhi mengatakan, untuk PDP yang tewas di RSUD Kelas B Subang bernama Mr “R” (74) warga Desa Wanakaya Kecamatan Haurgeulis Kabupaten Indramayu, pasien ditangani pihaknya.

Pasien datang ke RSUD pada tanggal 23 Maret 2020 dan ditempatkan di ruang isolasi. Pasien mengeluhkan sesak nafas di dada dengan panas tubuh yang tidak biasa pada tanggal 27 Maret 2020 pada tanggal 14.45 WIB. “Langsung kita isolasi, karena batuk dan sesak nafas, namun akhirnya tewas,” ujarnya.

Dijelaskan Ahmad, almarhum memiliki pekerjaan di Kota Tanggerang dimana kota tersebut dinyatakan zona merah Covid-19, sehingga almarhum dinyatakan PDP di ruang isolasi Alamanda RSUD Kelas B Subang.

Sebelumnya, pihaknya mengambil sampel sapuan (swipe) tenggorokan dan mengirimkannya ke Provinsi Jawa Barat di Lapkesda untuk memastikan apakah positif atau tidak. Namun hasilnya sampai saat ini belum ada, sehingga sampai sekerang pihaknya juga belum bisa memastikan almarhum tewas karena Covid-19 atau tidaknya.

“Selama masuk di RSUD, almarhum menunjukan progres perobatan yang baik di ruang isolasi. Namun tanpa diduga kondisi tubuh memburuk, karena sesak nafas dan akhirnya tewas.

Belum menerima laporan dari Lapkesda Provinsi Jawa Barat

Sampai saat ini, kita belum menerima laporan dari Lapkesda Provinsi Jawa Barat apakah uji lab sampel almarhum positif atau negatif. Maka dari itu kita belum bisa menyatakan apakah almarhum tewas karena Covid-19 atau tidak,” ujarnya.

Setelah meninggal, Ahmad menuturkan, jenazah almarhum sudah dipulangkan ke rumah duka di Haurgeulis. Jenazahnya sebelumnya dibungkus plastik dan dikafani dan dimasukan kantong jenazah dan dikawal oleh pihak aparat.

Jenazah tidak boleh berlama-lama dan sebelum 4 jam harus dimakamkan. “Kita lakukan prosedur dan jenazah harus segera dimakamkan tidak boleh lebih dari 4 jam,” ujarnya.

PDP di Kabupaten Subang yang ada di RSUD Kelas B Subang, dr Ahmad mengatakan, semuanya ada 12 PDP. Saat ini, hanya tersisa 1 PDP dan masih menunggu uji laboratorium, karena yang lainnya sudah dipulangkan dinyatakan sembuh namun tetap dipantau.

Riwayat belasan PDP pernah bekerja di luar daerah Kabupaten Subang dengan didominasi berada di zona merah Covid-19. “Hanya tersisa 1 PDP dan sedang menhunggu uji lab, sementara yang lainnya dipulangkan karena sudah sembuh namun terus dilakukan pemantauan,” ujarnya.

Saat ini, warga Subang yang berada di DKI Jakarta yang saat ini lockdown, bisa membuat warga Subang yang berkerja di Jakarta akan pulang ke Subang.

Pasalnya, tidak adanya penghasilan karena lockdown, sementara biaya hidup semakin tinggi. Pihaknya meminta kepada pihak Terminal Subang agar meningkatkan kewaspadaaan karena akan banyak warga Subang yang bekerja di Jakarta akan melakukan eksodus.

“Kita khawatirkan sebenarnya adalah eksodus, karena DKI Jakarta lockdown. Warga Subang yang tinggal di Jakarta tidak akan berpenghasilan sementara biaya hidup makin tinggi,” ujarnya.(ygo/vry)

- PDP Asal Haurgeulis Indramayu 
Mr. R (74) meninggal karena sesak nafas setelah sempat dirawat selama 4 hari di RSUD Subang

- Jenazah Sudah Dipulangkan 
Dibungkus memakai plastik, dikafani dan dimasukan ke kantong jenazah untuk dimakamkan di rumah duka dengan pengawalan ketat 
Dimakamkan tidak boleh lebih dari 4 jam

- PDP di RSUD Kelas B Subang ada 12 
Tinggal hanya 1 yang masih di RSUD 
11 lainnya diperbolehkan pulang karena sudah sembuh 
Riwayat kebanayakan bekerja di luar daerah Kabupaten Subang

- ODP ada 213 orang salah satunya ada Balita