Lufita Lu

Lufita Lu
0 Komentar

Sebelum ke Chongqing pun Fita sudah berani jadi penerjemah. Di proyek jalan tol Kertosono. Agar bisa mendapat penghasilan.
Lalu Fita berangkat ke Chongqing. Mendapat bea siswa dari ITCC. Menjadi mahasiswi berjilbab di Tiongkok. Fita diberi nama Tionghoa: Lu Yi He (???).

Prestasi di kampusnya menonjol. Sebelum wisuda pun sudah mendapat pekerjaan. Tinggal pilih.

Fita memilih di perusahaan smelter aluminium. Di Kalbar. Dua jam naik mobil dari Ketapang. Tiap dua bulan Fita mendapat libur panjang. Dua minggu. Disertai tiket pesawat Ketapang-Pontianak-Surabaya pulang pergi.

Baca Juga:Anne Apresiasi Kinerja Jajaranya Raih Nilai B, Target 2019 Raih Nilai ATekan Lost Pajak, Bapenda Pasang 10 Tapping Box

Setiap libur Fita pulang ke Kediri. Menengok ibunya. Yang hidup sendiri. Menemani ibunya. Di sebuah kamar kos-kosan di kota.
Gajinya sudah lebih Rp 10 juta sebulan.

Tapi Lufita masih mencari gaji yang lebih tinggi. Banyak tawaran datang. Apalagi Fita juga lancar berbahasa Inggris.
Sebuah pabrik tekstil dari Dubai juga memerlukan Fita. Untuk penerjemah Inggris-Mandarin.

Pabrik tekstil Dubai itu berada di kota Shao Xing. Sebuah kabupaten di Provinsi Zhejiang. Di pertengahan antara segitiga Hangzhou-Ningbo-Shanghai.

Shao Xing adalah penghasil dasi, BH, celana dalam terbesar di dunia.

Fita akan meninggalkan gajinya yang Rp 10 juta di Kalbar. Bulan depan. Pergi ke Shao Xing. Ke perusahaan tekstil Dubai itu. Ibunya merestuinya.

Pengusaha Dubai itu pun senang. Bisa mendapatkan Fita. Karena Fita muslim. Tahu budaya orang-orang Dubai. Yang juga Islam. “Sekarang masih urus visa kerja,” ujar Fita.

Saya akan terus memonitor karir Fita. Entah akan sampai di mana. Ibunya pasti bangga.(dahlan iskan)

Laman:

1 2
0 Komentar