Mimpi Istri Kandas di Tawau

Mimpi Istri Kandas di Tawau
0 Komentar

Masih banyak lagi penumpang yang statusnya seperti itu. Suami-istri. Tapi beda paspor. Terlihat dari warna paspornya. Beda warga negara.

Yang berwajah non-Tionghoa umumnya asal Sulawesi. Yang sudah kawin-main di Sabah. Dari Tarakan nanti mereka terbang ke Makassar. Ke kampung halaman. Tiap hari ada penerbangan langsung Tarakan-Makassar p/p.

Hubungan Tawau Tarakan memang memiliki kekhasan. Bertetangga. Hanya renggang saat terjadi konfrontasi.

Baca Juga:Petani Butuh Bendungan di Sungai CikembangDorong Peningkatan Potensi dan Inovasi Desa

Sampai di Samarinda pun nama Tawau sangat harum. Dianggap lambang kemajuan. Lambang modernisasi. Kemajuan kotanya. Kehebatan kebun sawitnya. Murah ya barang-barangnya.

Tawau yang hebat hidup dalam mimpi kebanyakan orang Kaltim. Termasuk dalam mimpi istri saya. Yang asli Kaltim.

Saat di Samarinda dulu saya bisa ikut jadi saksinya: gelas kaca terbaik dari Tawau. Merknya duralex. Jatuh tidak pecah. Piring pun dari Tawau. Minuman kaleng dari Tawau. Apa pun barangnya, yang terlihat modern, berasal dari Tawau.

Mimpi Tawau modern itulah yang mengecewakan istri saya. Yang untuk pertama kali ke Tawau. Minggu lalu.

Tawau yang dia lihat tidak sama dengan mimpinya. Selama 60 tahun.

Saya tidak kecewa. Saya sudah beberapa kali ke Tawau. Bukan Tawau yang mengalami kemunduran. Kitalah yang maju. Lebih cepat dari kemajuan Tawau.

Saat ke Tawau pertama dulu saya lihat Kaltim masih seperti kampung. Waktu itu saya masih wartawan baru. Berada di kasta paling rendah.

Kini terasa Tawau jauh ketinggalan. Perkebunan besar sawit di sana rupanya tidak berhasil menyejahterakan rakyatnya. Perkebunan hanya memerlukan buruh. Dengan gaji rendah. Hasil perkebunannya diekspor. Uangnya tidak kembali ke daerah. Kecuali dalam bentuk upah yang rendah.

Bukankah itu problem Riau juga?

Baca Juga:Kodim Bangun Jamban KeluargaEntis: Pelaku UKM Meningkat

Istri saya begitu kecewa datang ke ‘negeri impian’ itu. Padahal sudah saya pilihkan hotel terbaik. Terbaru.

Lebih kecewa lagi ketika saya ajak ke pusat kota. Ke dekat pasar sentral. Masih seperti Samarinda tahun 1980-an. Pasar sentral Tawau sekarang seperti Pasar Pagi Samarinda 40 tahun lalu.

Jalan-jalannya memang tidak berlubang. Tapi tidak terawat. Parit kanan-kirinya kotor. Berbau. Rumputnya tumbuh liar.

0 Komentar