Wacana Vaksin Ketiga untuk Booster, Ini Pendapat Epidemiolog

JAKARTA-Pemerintah rencananya akan memberikan vaksin COVID-19 dosis ketiga sebagai booster untuk para tenaga kesehatan. Hal ini dipicu adanya kasus sejumlah tenaga kesehatan yang meninggal walaupun sudah divaksin 2 kali. Ada juga faktor lonjakan kasus COVID-19 varian Delta akhir akhir ini.

“Arahan Bapak Presiden (Jokowi), bahwa vaksinasi ketiga, booster untuk tenaga kesehatan ini juga akan segera diatur oleh Pak Menteri Kesehatan, oleh Kementerian Kesehatan,” ujar Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto dalam jumpa pers virtual, Jumat (9/7).

Menanggapi hal tersebut, Epidemiolog UGM Bayu Satria Wiratama mengatakan bahwa sebetulnya pemberian vaksin COVID-19 dosis ketiga ini masih belum mendesak dan belum ada jaminan apakah pemberian booster bagi para nakes, dapat menjadikan mereka bebas paparan COVID-19 varian Delta.

Bayu menegaskan bahwa masih diperlukan riset lebih lanjut tentang apa yang menjadi penyebab kematian para nakes yang sudah divaksin tersebut.

“Bukti yang ada belum kuat bahwa dosis ketiga apakah ini diperlukan terutama untuk varian Delta. Yang lebih penting adalah mengetahui dulu apa penyebab pasti nakes yang menurut asumsi sudah banyak yang mendapatkan vaksinasi tapi masih terkena dan angka kematiannya masih tinggi. Apakah memang efektifitas vaksin yang rendah atau ada penyebab lain?,” jelas Bayu, seperti dikutip dari laman UGM, Sabtu (10/07).

Ia juga menambahkan bahwa bukti yang menyebut varian Delta menyebabkan kasus COVID-19 yang lebih parah masih terlalu sedikit. Menurutnya, masih awam untuk menyimpulkan bahwa varian ini lebih ganas.

Walau demikian, dirinya mengiyakan bahwa varian ini lebih menular karena buktinya memang sudah lebih kuat. “Lebih menular ini yang menyebabkan kenapa lebih banyak kasus yang berat ketika varian Delta muncul. Karena varian Delta menyebabkan lebih banyak orang sakit dan hal ini akan berbanding lurus dengan meningkatnya orang yang bergejala sedang-berat. Jadi, bukan karena variannya sendiri secara langsung,” paparnya.

Selain itu, banyaknya pasien COVID-19 yang butuh perawatan juga meningkat. Sementara, kapasitas rumah sakit tidak bisa bertambah dengan segera.

Akibat dari hal ini, banyak pasien tidak mendapat perawatan di rumah sakit rujukan. “Kondisi ini menyebabkan angka kematian meningkat,” katanya.

Bayu juga menanggapi data kemenkes yang menyebutkan bahwa 90 persen kasus kematian COVID-19 lebih banyak terjadi pada orang yang belum vaksin. Menurutnya, angkanya sebetulnya masih di bawah itu.

Dirinya setuju dengan target pemerintah untuk mendorong vaksinasi di tengah banyaknya warga yang menolak divaksin serta ruang perawatan COVID-19 yang penuh.

Bayu menyatakan, “Saya setuju dengan langkah mempercepat vaksinasi yang seharusnya juga didukung dengan edukasi dan langkah pemberantasan info hoaks agar orang semakin yakin untuk vaksin. Tapi info hoaks ternyata lebih masif sehingga hal itu menghambat proses peningkatan angka vaksinasi.”

Bayu juga menjelaskan bahwa virus SARS-CoV-2 akan tetap terus bermutasi sehingga kita memerlukan vaksin yang lebih baru. Seluruh vaksin yang ada kini juga menurutnya bisa diperbarui dengan hasil penelitian yang ada.

“Apabila dinilai varian yang baru benar-benar dapat mengurangi signifikan kemampuan vaksin terhadap virus SARS-CoV-2 maka akan dibuat semacam booster untuk vaksin tersebut. Namun, itu pun jika memang ada alokasi khusus yang tidak mengganggu vaksinasi secara umum maka bisa diberikan,” kata bayu.(red)